Rabu, 13 Februari 2013

KONSELING KELOMPOK


ARTI, PENGGUNAAN, KEGUNAAN DAN MACAM-MACAM
KONSELING KELOMPOK

Oleh : Dra. Aryatmi Siswohardjo MA

I. APAKAH KONSELING KELOMPOK
                  Konseling diartikan dalam arti luas dan sempit. Dalam arti luas konseling berarti kegiatan menolong seseorang dengan menggunakan wawancara. Dalam arti sempit konseling adalah kegiatan menolong melewati dengan mengharuskan kedua belah pihak mengadakan interaksi, saling keterlibatan dan pembagian tanggung jawab dalam usaha memecahkan masalah.
                  Dalam konseling kelompok pemecahan masalah dilaksanakan dalam situasi kelompok. Anggota kelompok biasanya meliputi orang yang mempunyai masalah yang bersamaan atau yang dapat memperoleh manfaat dari metode itu intensitas dan sifat interaksi dalam proses konseling berbeda dengan :
a.         Tipe Konseling Kelompok
Dapat berupa pemberian informasi kepada kelompok siswa, dapat berupa diskusi kelompok dengan tujuan agar lewat kegiatan ini sebagian atau seluruh anggota dapat tertolong. Tetapi ada pula konseling kelompok yang mengharuskan keterlibatan yang mendalam dari dua pihak dan interaksi yang intensif dari konselor dengan konseli, mengharuskan saling membagi (sharing) pengalaman, tilikan dan sebagainya.

b.         Tujuan
Tujuan dapat bermacam-macam, seperti pemecahan masalah yang ringan dan berat, diperoleh tilikan-tilikan baru, atau perubahan pandangan, sikap atau tingkah laku. Dapat juga pemberian pertolongan kepada konseli agar ia dapat melepaskan perasaan-perasaan negatif yang berakar dalam seperti rasa diri kurang atau rasa bersalah, disertai usaha memperoleh pengenalan dan konsep yang lebih realistik tentang diri sendiri dan orang lain.
           
c.         Pribadi Konselor dan Anggota
Kemasakan pribadi konselor, kesehatan jiwa, ataupun adanya masalah-masalah yang belum terpecahkan dan frustasi-frustasinya ikut menentukan apakah ia dalam kondisi yang baik untuk bertindak sebagai konselor.
Demikian juga sifat-sifat seperti ; apakah ia dapat menerima, mendukung atau memahami orang yang bermasalah, dan memahami perasaan orang ditinjau dari kerangka orang itu sendiri? (dengan frame of reference konseli).

                   Sifat-sifat tersebut sedikit banyak juga diharapkan ada pada anggota kelompok, karena setiap orang dalam kelompok akan betindak baik sebagai konselor maupun sebagai konseli. Hanya orang yang relatif masak yang dapat menjadi anggota yang berguna dalam kelompok. Setiap anggota diharapkan untuk mau dan mampu berpartisipasi sebagai anggota dengan cara positif.
                   Tetapi di lain pihak kelompok konseling diadakan untuk mereka yang memerlukan pertolongan, atau lebih tepat yang merasa membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu masalah pemilihan anggota kelompok adalah masalah yang pelik.
                   Konseling kelompok tidak hanya merupakan pertolongan yang kuratif atau preventive, misalnya jika menolong orang membentuk / memperbaiki pribadinya, terutama bagi mereka yang belum / kurang mnyedari bahwa mereka bermasalah. Pembahasan dalam kelompok akan membuat mereka lebih sadar akan masalahnya dan memperoleh tilikan/jalan keluar yang dapat ditempuhnya.
                   Orang-orang yang mempunyai masalah kejiwaan yang relatif berat dapat dijadikan sebagai anggota kelompok, hanya jika kegiatan kelompok dipimpin oleh seorang pemimpin (facilitator, konselor) yang berpengalaman.
                   Pengalaman menunjukkan bahwa teknik yang sama  yang diterapkan beberapa kelompok tidak pernah menunjukkan dinamika dan hasil yang sama. Pribadi tiap individu mempunyai sifat-sifat yang unik dan memnerikan pengaruh yang unik pula pada setiap situasi. Pribadi-pribadi dengan sifat-sifatnya yang khas/unik dari setiap individu menentukan suasana, dinamika dan proses, yang berlangsung dalam konseling kelompok, yang khas pula.
                   Tetapi di atas semua itu konselor lah yang menjadi kunci keberhasilan konseling kelompok. Pemimpin harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memimpin kelompok, menstimulir dan secara tidak menyolok memberi arah sambil menciptakan suasana “permissive”. Ia perlu memiliki sifat atau sikap seperti minat yang sungguh-sungguh dan wajar, hingga anggota kelompok merasa “diterima” dan ditolong untuk “menerima” orang lain. Ia hendaknya memiliki kapasitas untuk merangsang keterbukaan yang memungkinkan berlangsungnya “saling membagi” (sharing) di antara orang.

II. KEBUTUHAN AKAN KONSELING KELOMPOK
                   Salah satu hal yang menunjukkan alasan akan perlunya konseling kelompok ialah bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain, kebutuhan akan penerimaan, kasih dan pengakuan merupakan kebutuhan akan penerimaan, kasih dan pengakuan merupakan kebutuhan dengan manusia.
Tanpa komunikasi manusia tidak dapat mengaktualisasikan potensinya dan mencapai tingkat kemasakan dala kehidupan yang sehat dan bahagia. Ini berarti beberapa kebutuhan, atau masalah yang paling baik dipenuhi dan dipecahkan dalam situasi kelompok. Perasaan bahwa ia tidak dikasihi atau tidak diterima orang hanya dapat “diobati” dengan menghayati kasih dan penerimaan di dalam kelompok. Dalam konseling individual masalah macam ini hanyadapat dibicarakan, dalam konseling kelompk hat tersebut dapat diperlihatkan atau langsung dihayati.
                   Indikasi yang ketiga yang menyatakan kebutuhan akan pendekatan kelompok dalam konseling ialah masalah efesien, memberikan konseling individual memerlukan waktu yang banyak. Memang tidak dapat kita menyisihkan konseling individual dan diganti dengan konseling kelompok dengan alasan menghemat waktu, tetapi jelas bahwa individu-individu yang bermasalah bersamaan akan lebih beruntung jika dilayani dengan pendekatan kelompok. Setiap anggota kelompok diminta dan diberi kesempatan dalam menentukan prosedur kelompok. Sering pula, orang lebih memberi perhatian kepada pendapat teman sebaya dari pada pendapat orang tua atau penguasa, yang sering dihadapi dengan kecurigaan atau keragu-raguan.

III. HAL-HAL YANG PERLU DIPIKIRKAN DALAM PENYELENGGARAAN KONSELING KELOMPOK.
                   Setiap kegiatan konseling, baik individual ataupun kelompok, kelihatannya “sederhana” bagi orang luar (penonton). Tetapi orang tidak mengetahui apa yang beralngsung dibalik yang kelihatan itu. Baru jika orang mendalami teori konseling ia menjadi sadar akan kompleknya konseling. Memang konseling tidak semudah yang diperkirakan. Dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk dapat mengadakan konseling yang baik.
Keterampilan yang dimaksud meliputi wawancara, mengamati, mendengarkan, komunikasi, menganalisa data dan sebagainya. Selain itu pemimpin konseling kelompok memerlukan keterampilan lain seperti menjadi fasilitator diskusi, memahami dan menggunakan dinamika kelompok secara efektif, dan sebagainya.
                   Beberapa faktor perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan konseling kelompok seperti:
1.             Pemimpin harus betul-betul menyadari tujuan dan membawa diskusi ke arah tujuan tanpa memporsir (memaksa) proses kelompok.
2.             Ia harus dapat membedakan antara kegiatan kelompok dengan kebutuhan kelompok.
3.             Para anggota kelompok perlu dipilih dengan teliti, dengan menyisihkan orang yang menderita   maladjusment yang berat.
4.             Anggota perlu betul-betul dipersiapkan sebelumnya, supaya mereka mau/siap bertindak sebagai anggot yang mau “share” dan menolong anggota lain dalam kelompok, peka terhadap dan menyesuaikan diri dengan pribadi lain.
                   Jelas dari yang diatas bahwa keberhasilan konseling kelompok banyak ditentukan oleh pribadi konselor.

IV. MACAM-MACAM KONSELING KELOMPOK
                   Akhir-akhir ini banyak perhatian dicurahkan kepada konseling kelompok. Psikolog, konsleor dan pekerja sosial mengadakan eksperimen mengenai pendekatan kelompok dalam konsleing. Konseling kelompok digunakan di rumah sakit, lembaga pendidikan maupun masyarakat luas.
                   Teknik kelompok memang bervariasi, baik tentang bentuk, isi, tujuan, dinamika maupun interkasi di dalam kelompok.
Kegiatannya dapat berupa memberi informasi kepada siswa mengenai cara atau kebiasaan belajar, ataupun tentang bagaimana cara memilih pekerjaan atau jurusan studi. Kegiatan macam ini sebenarnya sukar untuk disebut konseling kelompok yang mendalam. Dimana anggota tidak hanya mendapat informasi dan arah/bimbingan dalam membuat keputusan  atau menentukan langkah berikutnya, tetapi juga mendapat tilikan tentang sikap-sikap hidupnya yang selanjutnya mengakibatkan perubahan tingkah laku.
                   Jenis lain dari kegiatan kelompok dalam menggunakan bahan bacaan (biasanya sehubungan dengan masalah atau kebutuhan yang dihadapi anggota kelompok). Setelah dibaca kelompok dimohon untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan atau pernyataan sehubungan dengan isi bacaan. Jika isi bacaan betul-betul mengenai maslah atau kebutuhan anggota kelompok dapat bertumbuh diskusi yang sangat berguna.
                   Kelompok serendipity, yang biasanya terdiri dari 8-10 anggota, didorong untuk memikir tentang diri sendiri, dan mengekspresikan diri dengan menggunakan guntingan gambar, dengan menggambar, atau garis-garis. Tugas atau pertanyaan yang merangsang dapat berbunyi: Dimanakah saya sekarang? Bagaimana saya? Atau masa kecil dan keluarga saya. Lewat kegiatan –kegiatan itu kita ditolong untuk lebih mengenal diri dan orang lain dalam kelompok, maupun belajar saling membagi (share) dan menerima.
                   Yang disebut diatas merupakan kegiatan kelompok berstruktur/terpimpin ialah kelompok hubungan antar pribadi, yang terdiri dari 5 pertemuan kelompok. Untuk tiap pertemuan diperguanakn 1 buku yang memberi arah atau pimpnan kepada diskusi. Pimpinan kelompok berindak sebagai fasilitator  diskusi, menginterpretasi konsep-konsep, menyimpulkan diskusi bilaman diperlukan.
                   Kegiatan kelompok type ini berguna bagi anak muda maupun orang dewasa untuk mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi. Editor buku-buku kecil (BIR-Basic Interpersonal Relationship) ini, yaitu “The human Development Institute” yang merupakan bagian dari IDI (instructional Dynamic Incorated) di Chicago menulis :
“ Kursus ini membrikan perkenalan tentang prinsip berhubungan dengan orang lain, dan memberikan kesempatan untuk mencobakan prinsip-prinsip itu dengan cara yang menyenangkan, dan merangsang keterbukaan di antara para anggotanya”.
Kursus kegiatan kelompok ini meliputi :
-            Menunjukkan penerimaan.
-            Menyadari perasaan orang lain dan menaggapi perasaan itu.
-            Mencari jalan (cara) yang ekluar dari pola tingkah laku yang menuduh atau mempertahankan diri.
-            Mengakui perasaan sendiri.
-            Bertumbuh dalam kesadaran akan perasaan sendiri.
Di Barat, terutama di Amerika, akhir-akhir ini ada kemajuan pesat dalam penggunaan kegiatan kelompok, yang mirip dengan kelompok konseling, tetapi yang sebenarnya berbeda. Kegiatan kelompok itu meliputi kegiatan kelompok “Enconter”, keompok “sensitivity”, kelompok-kelompok “confrontation”, atau T (Training) Group.
Marilah kita tinjau dengan cepat macam-macam konseling kelompok itu:
1.         Terapi Gestalt (Gestalt Therapy)
                        Tipe ini dikembangkan ole Fritz Perls, menekankan kebualatan individu,dan kebijaksanaan sub-intelektual dan komunikasi tubuh. Caranya ialah dengan menempatkan setiap anggota secara bergantian, di kursi dekat pemimpin, yang disebut “Hot seat” atau “kursi panas”, untuk “bekerja” dengan pemimpin sedang anggota lain mengamati.

2.         Analisa Transaksi (Transactional Analysis)
                        Tipe ini dikembangkan oleh Eric Berne, mempunyai prosedur yang mirip dengan tipe gestalt, tetapi menekankan aspek-aspek intelektual dan kognitif. Teori ini menekankan transaksi atau interaksi diantara peranan-peranan atau status ego individu, (orang tua, anak, dewasa), sebagaimana dibahas dalam buku “I’am ok, you’re ok”.

3.         Esalen Eclective
                        William Scuhtz dalam buku Joy (1967) membahas tipe ini, yang nampaknya “meminjam” (menggunakan) apa saja yang bisa jalan, kadang-kadang menekankan pelepasan-pelepasan dari hambatan tubuh, pada pelaksanaan (active doing) dan pengalaman dan kurang menekankan kepada mencari makna larangan.

4.         Psikodrama
                        Psikodrama, sosiodrama, atau role-playing biasanya dipergunakan sebagai teknik tambahan dala teknik-teknik lain. Type ini pada dasarnya memberi kesempatan kepada pemain untuk “act out” pengalaman-pengalaman yang membekas atau traumatik dengan cara yang dramatik.

5.         Marathon
                        Kelompok marathon bertemu tanpa istirahat untuk waktu yang panjang, misalnya selama 12 atau bahkan 24 jam. Kontak yang intensif dan kelelahan jasmani dapat mempercepat interaksi.

6.Orientasi Psiko-Analitik
                        Aliran/type ini mengikuti prinsip-prinsip Freud dan pengikut Freud dalam emnggunakan analisa psiko (taking apart the soul), mempunyai kecenderungan yang relatif konservatif, kurang menggunakan atau memperhatikan emosi, dan lebih bersifat rational dibanding dengan tipe lain.

6.         Tape Encounter (kelompok yang tidak memerlukan pemimpin)
                        Kelompok yang menggunakan tape yang dimainkan untuk setiap pertemuan encounter. Dalam prosedur kelompok diperguankan bermacam-macam latihan yang berstruktur (seperti dengan pertemuan antar pribadi-dengan menggunakan buku BIR, yang disebut sebelumnya).


V. KEOMPOK KONSELING-KELOMPOK ENCOUNTER.
Tidak semua kegiatan keompok dapat diterapkan di Indonesia. Faktor kebudayaan di Indonesia yang kurang mendorong orang untuk mengekspresikan diri dan perasaan, menyebabkan T-Groups (sensitivity training groups), sukar dipergunakan, kecuali untuk kelompok orang yang telah betul-betul dipersiapkan. Demikian juga pendekatan “menyerang” yang dilakukan oleh Fritz Perls mungkin sukar dilakukan untuk orang-orang Indonesia. Barangkali pendekatan encounter dari rogers, mengeksplore pendalaman hubungan dapat dilaksanakan. Namun sebenarnya kelompok-kelompok encounter pada dasarnya berbeda dengan kelompok konseling. Satu tujuan utama dari kelompok encounter ialah untuk mempertemukan orang, untuk saling “berhadapan” dan menjadi lebih peka terhadap orang lain. Kelompok-kelompok konseling mempertemukan orang untuk mengeksplore kesempatan menganal masalah-masalah yangada dan bagaimana tindakan/cara memecahkannya dengan sebaik-baiknya.
Kelompok encounter menekankan kepada perasaan, kelompok encounter menggunakan perasaan, dihubungkan dengan ratio untuk menginterpretasikan (memahami) pengalaman dan merencanakan bagaimana dengan itu memperbaiki hidup.
Merle Ohlsen dari universitas Indiana, seorang ahli terkenal, dibidang konsleing kelompok, menyatakan bahwa kelompok encounter cenderung untuk kurang berstruktur di banding dengan kelompok konseling; kelompok encounter cenderung menekankan kelompok konfrontasi dan interpretasi dari tingkah laku, sedangkan konseling kelompok menekanka kepada empati terhadap konseli, memberi dukungan kepada sesama konseli di waktu mereka membahas perasaan, merencanakan langkah-langkah yang harus dilakukan dan melaksanakan langkah-langkah itu.


IV. KONSELING KELOMPOK MENURUT OHLSEN
                   Beberapa hal yang pokok tentang konseling kelmpok menurut Ohlsen meliputi :
1.          perlu diadakan “intake interview” atau wawancara pendahuluan dengan mereka yang ingin menjadi anggota kelompok. Tujuannya adalah :
a.              Untuk memulai/membuka hubungan yang berdasarkan pemahaman antara pemimpin dengan anggota, menyiapkan hal-hal (suasana kejiwaan, sikap pada calon anggota dan lain-lain) yang menolong agar proses kelompok dapat berjalan cepat dan lancar, mengembangkan kesediaan dan kesiapan tiap anggota untuk saling menolong / mengkonsel; juga untuk menolong dalam menentukan dan megembangkan prosedur kelompok. Terlampir: contoh dari formulir “intake interview” yang harus diisi oleh calon anggota. Contoh dari formulir “intake interview”, yang harus diisi oleh calon anggota.
b.        Suatu pertemuan yang lamanya 2-3 jam, dimana para anggota yang mengambil peranan (paling banyak berbicara). Pembicaraan bertitik tolak dari apa yang ditulis dalam formulir tersebut. Kemudian diteruskan dengan pertemuan 2x seminggu selama 5-6 minggu. Tekanan diberikan kepada: menentukan tujuan untuk tiap anggota dan bagaimana anggota masing-masing dapat memasuki proses menuju kepancapaian tujuan. Diharapkan juga ia dapat bererak ke arah makin memahami masalah-masalahnya dan memecahkannya.
2.          Sebelum akhir setiap pertemuan, setiap anggota diminta memilih anggota lain untuk diajak berbicara tentang situasi yang sedang dihadapi dan bagaiman memperbaiki situasi itu. Pasangan itu bertemu sebelum pertemuan berikutnya, dan melaporkan kepada kelompok tentang pembicaraan, rencana, hasil pelaksanaannya.
3.          Pada akhir pertemuan setiap anggota diberi kesempatan untuk memberi saran / usul untuk perbaikan untuk penyelenggaraan pertemuan yang akan datang.
                             
                              Pengenalan dan pemahaman tentang kelompok konseling ini (apa yang terjadi, dinamika, persoalan, kebaikan dan sebagainya) yang sedalam-dalamnya sukar diperoleh lewat mendengarkan penjelasan, membaca atau membicarakannya. Untuk itu kita harus menghayatinya sendiri.
                              Sebagaimana diketahui umum, konseling kelompok dapat melengkapi layanan konseling individual dan tidak menggantinya.


Lampiran :
CONTOH FORMULIR YANG HARUS DIISI CALON ANGGOTA
KONSELING KELOMPOK
Sebelum “intake inteview” (wawancara pendahuluan)

1. Setiap anggota diharapkan menghadiri semua pertemuan kecuali jika ia sakit atau jika perasaan terlalu tertekan, ia boleh meninggalkan (tidak menghadiri pertemuan) sampai ia merasa siap untuk datang lagi pada pertemuan konseling.
2. Informasi yang anda berikan akan dijaga kerahasiaannya. Kecuali pemimpin kelompok tidak ada orang lain akan melihatnya.
3. Saya telah pernah menjadi anggota salah satu kelompok konseling................... apa .............. kapan ................. berapa lama..................
4. Saya pernah diberi obat dari dokter untuk penyakit syaraf (kapan).................berapa lama............Apakah ada yang lain yang mungkin lebih serius dari yang disebutkan tadi................
5. Saya bersedia  memberi saran-saran perbaikan bagi perbaikan prosedur kelompok..................
6. Sebagai anggota kelompok ini saya berjanji tidak akan mengemukakan hal-hal yang dikatakan di sini atau yang saya lihat atau alami di sini di luar kelompok. Saya menyadari bahwa tentu pada saat-saat tertentu saya dapat berbicara tentang hal-hal itu diluar situasi kelompok ini, tetapi tanpa membuka rahasia orang atau menyebut nama orang atau kelompok, kecuali diri sendiri, hingga orang tidak tahu hubungan persoalan itu dengan kelompok ataupun anggota kelompok.
7. Saya bersedia memberi saran-saran perbaikan bagi perbaikan prosedur kelompok.............
8. Saya mengerti bahwa dalam masa konseling kelompok ini sebaiknya saya tidak akan membuat keputusan penting dalam hidup saya (karena adanya kemungkinan pergolakan emosi dan sebagainya).
  1. Saya berjanji akan bergaul dan berbicara dalam kelompok ini secara bebas dengan kelompok lain, mengekspresikan diri dalam kata-kata pada saat-saat saya merasa baik/tepat atau jika pada saat tertentu timbul perasaan yang perlu saya komunikasikan dengan anggota lain.
10.        Saat dan tempat dalam hidup saya yang membuat saya merasa paling bahagia adalah..............
11.        Saat saya yang merasa paling sakit hati / disakiti hati (hal yang sangat saya butuhkan atau hal yang saya ingin mengubahnya mengenai diri saya ialah.............
12.        Pengalaman sewaktu kecil saya (sebelum berumur 10 tahun) yang tetap saya ingat dengan penuh rasa ialah............. sebab................
13.        (komentar lain)...............                                 _____________________
                                                                              Nama anggota kelompok
Lampiran

Dr. Jane H Root.
                        Baca percakapan berikut antara seorang konselor bimbingan dan seorang siswa. Kemudian pilih satu dari kemungkinan-kemungkinan jawaban di bawah yang paling mendekati jawaban yang mungkin anda berikan bila sisiwa tersebut menghadap diruang kerja anda.
-            “ He, Adik apa kabar? Apa yang dapat saya bantu?”
-            “ Keluarkanlah saya, Pak, dari sekolah kalau Bapak mau. Pokoknya saya tidak dapat belajar, dan saya inginmencari pekerjaan saja. Tetapi menurut ayah, saya tidak boleh berhenti sekolah. Benci saya, terutma itu lho, pelajaran biologi. Gurunya benar-benar payah dech. Ia mendamprat-damprat saja dan memberikan PR yang tak seorang  muridpun mengerjakannya; ia mendamprat kami sepanjang   jam karena tak membuat PR itu. Begitulah Pak, kami tak bisa belajar apa-apa “.

Sekarang pilih salah satu dari jawaban-jawaban berikut yang menurut Anda akan dapat menolong :
1. “Menurut pandanganmu tak ada gunanya bersekolah bila tak ada yangberguna yang dapat kamu pelajari dan kamu ingin saya meyakinkan ayahmu bahwa kamu seharusnya berhenti sekolah saja”.
2. “Apakah kamu sudah berbicara dengan Pak Harun tentang bagaimana perasaanmu mengenai pelajaran Biologi, dengan maksud kalau-kalau pelajaran itu dapat diperbaiki?”.
3. Bila kamu berhenti sekolah, maka kamu tak akan  mendapatkan pekerjaan yang baik. Tidak saja kamu nanti akan menjadi seorang potolan sekolah, tetapi kamu akan kehilangan kesempatan baik memperoleh kepandaian yang kamu perlukan”.
4. “Nampaknya kamu merasa dirimu sangat tertekan dengan keadaanmu dan kamu rasa-rasanya seperti mau melepaskan diri dari semuanya itu”.
5. “Ya, satu sebab mengapa saya berada di sini ialah membantu siswa-siswa mengatasi masalah seperti ini. Kita semua kadang-kadang merasa diri kita terkekang tetapi menurut pengalamanku, bila kita mengambil satu-satu masalah biasanya kita dapat menemukan pemecahannya.sekarang saya kira kita perlu mencari jalan bagaimana membantu agar kamu dapat menyelesaikan PR-mu”.
6. “Hemmm-hemmm, ya”.
7. “Saya akan menemui Pak Harun, untuk mengetahui apa maksud-maksudnya. Kemudian saya akan menemuimu lagi pada hari kamis dan kita lihat nanti bagaiman mengatasi soal ini”.

1 komentar: