Rabu, 13 Februari 2013

EVALUASI, ANALISIS, FOLLOW-UP & TUGAS PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN KONSELING


BAB I
EVALUASI
A.    Pengertian Evaluasi
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai "setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai". Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai "a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils". Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang jelas.
Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.
B.     Fungsi Evaluasi
Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga fungsi besar evaluasi. Tagliante (1996) menyebutnya "Trois grands fonctions de l'évaluation." Tiga fungsi itu adalah fungsi pronostik, fugsi diagnostik, dan fungsi sertifikasi. Pertama, fungsi pronostik, yaitu tes awal proses pembelajaran untuk mengetahui kondisi obyektif dari pembelajar. Hasil yang diperoleh digunakan untuk menentukan dimana posisi pembelajar, misalnya apakah dia termasuk pemula dalam sebuah materi atau dia sudah pantas menerima kelanjutan materi tersebut dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Fungsi pronostik juga berguna untuk memprediksi kompetensi lanjutan yang mungkin dapat dicapai oleh pembelajar. Artinya, dengan hasil tes yang ada, dapat direncanakan kompetensi apa yang dapat dikuasai pada tahap berikutnya.
Menyamaratakan kemampuan pembelajar pada awal proses akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan pembelajar itu. Selaku pembelajar, tiap individu berbeda-beda kemampuan dasarnya. Perbedaan itu harus dicermati dan diakomodir dengan memberikan perlakuann yang berbeda juga. Perbedaan itu meliputi pemberian materi lanjutan yang akan dibahas, penugasan, dan penghargaan. Penghargaan di sini lebih bersifat penguatan (réinforcement). Ini berhubungan dengan kejiwaan. Penghargaan minimal yang bisa diberikan adalah dengan "ucapan selamat" atas usahanya untuk mengetahui sesuatu lebih cepat dari orang lain. Dari segi proses dan pemilihan materi bahasan memang sedikit agak menyulitkan pengajar dalam mengelola kelas. Namun itu akan berakibat kondusifnya suasana kelas yang dapat mengarahkan pembelajarnya lebih berprestasi lagi. Akan tercipta situasi yang penuh dengan kompetisi sehat yang menjadi pemicu bagi setiap individu untuk tampil. Atmosfer akademik dalam suasana saling berkompetisi sangat berkontribusi terhadap pencapaian target pembelajaran.
Memberi perlakuan yang sama berarti kurang menghargai kemampuan seseorang yang lebih dari yang lainnya. Bagi pengajar, menyamakan atau generalisasi ini akan mempermudah dia dalam bertugas. Namun efek yang bisa timbul adalah munculnya kebosanan dan rasa pesimis dari mereka yang memiliki kemampuan lebih.
Yang kedua, fungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang menganalisis kemampuann pembelajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Fokusnya adalah membantu mereka bagaimana supaya mampu memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi ini berlangsung sepanjang proses pembelajaran. Tujuan utamanya adalah membantu pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Evaluasi diagnostik, memungkinkan seorang pengajar mempertahankan metode yang digunakan atau segera menggantinya. Fungsi ini dapat diwujudkan dalam bentuk tes formatif, yang mengevaluasi pembelajar pada setiap sub pokok bahasan, atau sub unit suatu pelajaran. Jadi, tes itu tidak hanya dilakukan sekali diakhir suatu periode pembelajaran, melainkan ada tes-tes pengontrol atau pendamping dari tes akhir. Bentuk dan pelaksanaannyapun tidak sekaku yang ada selama ini, seperti mid semester, tidak, tapi bisa lebih dinamis, yang sedemikian rupa bisa dirancang oleh pengajar. Yang ketiga, fungsi sertifikasi. Evaluasi saat ini berguna untuk menyatakan kedudukan atau peringkat seseorang dalam sebuah pembelajaran. Evaluasi dilaksanakan di akhir sebuah periode pembelajaran, umpama di akhir semester, program, paket, atau tingkat. Ujian DELF dan DALF juga termasuk di sini , walaupun tidak ada proses pembelajaran resmi sebelumnya. Namun, dia lebih kepada pensertifikasian tingkat kemampuan bahasa Prancis seseorang.
Fungsi sertifikasi dalam evaluasi pembelajaran sama sekali tidak menggiring pembelajar untuk meningkatkan kemampuan akademisnya, karena dia dilaksanakan terakhir. Tujuannya hanya menyatakan status dan mendapatkan laporan hasil belajar atau sertifikat.


C.    Bentuk Evaluasi
Evaluasi mempunyai beberapa teknik yang berusaha mencari solusi lebih baik dalam mengejar keerhasilan belajar. Pada dasarnya evaluasi itu dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk tes yaitu :
a.       Teknik non tes
b.      Teknik tes

a.      Teknik Non Tes
Maksudnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dengan cara :
a)      Skala Bertingkat
Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan.
b)      Daftar Cocok
Maksudnya adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah disediakan.
c)      Wawancara
Maksudnya adalah semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya.
d)     Daftar Angket
Maksudnya adalah bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dn pendapatnya tentang sesuatu.

e)      Pengamatan (observasi)
Maksudnya adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa disekolah. Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek pribadi siswa, maka pengamtan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes lainnya.
f)       Riwayat Hidup
Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dpat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.

b.      Teknik Tes
Tehnik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
a)      Tes Subjektif
Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang bersifat uraian dan atau penjelasan. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, penjelasan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk lain sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
b)      Tes Objektif
Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatsi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay. Tes objektif disebut juga dengan istilah short answer test atau new type test. Yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih diantara alternatif jawaban yang dianggap benar dan paling benar.

BAB II
ANALISIS
A.    Pengertian Analisis
Analisis adalah mengidentifikasi aspek masalah sehingga informasi yang diperoleh dari hasil analisis akan memberikan arah untuk mencari informasi tambahan dalam upaya membantu individu dalam memecahkan masalahnya.
B.     Bentuk Analisis
Analisis dapat berbentuk seperti identifikasi masalah siswa. Contoh :
a.       Analisis hasil pengukuran intelegensi
b.      Analisis hasil pengukuran bakat
c.       Analisis hasil inventori minat jabatan
d.      Analisis hasil pengukuran kepribadian

a)      Analisis Hasil Pengukuran Intelegensi
            Secara umum intelegensi itu pada hakekatnya adalah merupakan suatu kemampuan umum untuk memperoleh suatu kecakapan yang mengandung berbagai komponen. Untuk mengungkap kemampuan kemampuan individu biasanya dipergunakan instrumen tes intelegensi. Tes intelegensi dapat memberikan data untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan pemahaman diri (self-understanding), penilaian diri (self-evaluation), dan penerimaan diri (self-acceptance). Hasil pengukuran dengan menggunkan tes intelegensi dapat digunakan peserta didik untuk meningkatkan persepsi dirinya secara maksimal dan mengembangkan eksplorasi dalam beberapa bidang tertentu. Tes intelegensi juga berfungsi dalam memprediksi, memperkuat dan meyakinkan para peserta didik.
           
            Secara umum pengukuran intelegensi bertujuan, yakni untuk : (1) membantu peserta didik makin memahami dirinya, sehingga peserta didik mampu mengambil keputusan, perencanaan, dan pemecahan masalah secara arif dan bijaksana, (2) membantu kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru pembimbing, dan orang tua siswa agar mereka mengerti dan memahami peserta didiknya sehingga mereka dapat menyediakan lingkungan yang memadai dan dibutuhkan para peserta didik.
            Secara khusus pengukuran intelegensi bertujuan, yaitu : (1) untuk mengidentifikasi peserta didik yang cerdas dan superior, (2) untuk menentukan siswa yang mengalami kesukaran dalam belajar, (3) dapat dipakai sebagai dasar penggolongan kelas secara homogen.
            Kegunaan dari pengukuran intelegensi ini di antaranya : (1) untuk melengkapi data yang sudah ada, (2) untuk mengenal taraf intelegensi masing-masing individu siswa dan memprediksi tingkat kesulitan belajarnya, (3) untuk bahan pemberian informasi secara individual pada peserta didik, (4) untuk mendalami masalah individu maupun kelompok.

b)     Analisis Hasil Pengukuran Bakat
            Bakat atau kemampuan khusus sebagai potensi yang dimiliki siswa perlu sekali digali agar tampil dan dapat diaplikasikan dengan tepat sesuai dengan bidangnya. Untuk mengetahui bakat individu siswa secara tepat, perlu dilaksanakan pengukuran psikologis dengan menggunakan beberapa instrument atau tes bakat. Salah satu tes bakat yang umum digunakan adalah tes bakat pembedaan (differential aptitude test) yang disingkat DAT, yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.
            Tujuan pelaksanaan tes bakat, yaitu : (1) memberikan bahan informasi yang bermakna dan akurat kepada siswa terutama dalam membentu mereka mengambil jenis-jenis keputusan yang bersangkutan dengan pemilihan program atau jurusan di sekolah, (2) memberikan bahan informasi bagi para siswa dalam memilih studi sambungan atau lanjutan setelah tamat sekolah dan krier-krier yang perlu dipertimbangkan untuk memasuki masa depan yang lebih cerah, (3) untuk membantu sekolah menentukan siswa-siswa manakah yang cocok untuk ditempatkan dalam program-program atau jurusan tertentu.
            Kegunaan pelaksanaan tes bakat yaitu : (1) untuk melengkapi data yang sudah ada, (2) mengenal aspek-aspek bakat masing-masing individu siswa, (3) untuk mendapatkan gambaran profil bakat dari masing-masing siswa, (4) untuk mendalami masalah individu maupun kelompok.

c)      Analisis Hasil Inventori Minat Jabatan
            Salah satu aspek dari pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah ialah pelayanan himpunan data. Pelayanan himpunan data yang dimaksud disini ialah suatu upaya untuk memperoleh data atau bahan keterangan sebanyak mungkin dan selengkap mungkin tentang individu siswa serta lingkungannya. Dalam pelayanan himpunan data ini disebarkan inventori minat jabatan. Instrument ini adalah merupakan suatu bentuk inventori yang berguna untuk mengungkapkan beberapa bidang minat jabatan individu siswa.
            Tujuan pengukuran minat jabatan adalah : (1) mengungkap enam bidang minat individu siswa dalam pekerjaan yang berhubungan dengan tekhnikal, sain atau ilmu pengetahuan, seni kreatif, pelayanan sosial, kontak bisnis atau kontak usaha, operasi bisnis atau usaha, (2) memperoleh informasi yang tepat mengenai kawasan dunia kerja yang diminatinya.

d)     Analisis Hasil Pengukuran Kepribadian
            Salah satu aspek dari pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah ialah pelayanan himpunan data. Dalam himpunan pelayanan data ini disebarkan inventory kepribadian yang sering disebut “study of values”. Instrument study of values ini adalah merupakan suatu bentuk inventori yang berguna untuk mengunkapakn berbagai aspek kepribadian individu siswa terutama mengenai nilai-nilai dirinya.


            Tujuan penyebaran inventori kepribadian ini mengungkap enam dasar minat dan motif dalam kepribadian yang relatif yang menonjol pada individu siswa, yaitu : (1) Ilmu Pengetahuan (teoritis), (2) Ekonomis, (3) Estetis, (4) Sosial, (5) Kenegaraan Politis, dan (6) Relegius.
            Kegunaan penyebaran instrument dan analisis data ini adalah : (1) Melengkapi data yang sudah ada, (2) Mengenal aspek-aspek kepribadian individu yang perlu mendapat bimbingan khusus, (3) bahan pemberian informasi secara individu kepada siswa, (4) Mendapatkan gambaran aspek-aspek kepribadian dari siswa, (5) Mendalami masalah individu maupun kelompok.

BAB III
FOLLOW- UP
A.    Pengertian Follow up
Follow up adalah tindak lanjut dari hasil evaluasi. Follow-UP adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yanf didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.


BAB IV
TUGAS PERKEMBANGAN
A.    Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan dalam bimbingan dan konseling terdiri dari 9 tugas perkembangan, yaitu :
1.      Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Mencapai kematangan dalam hubungan dengan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita.
3.      Mencapai ketangan pertumbuhan jasmaniah dengan cepat.
4.      Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir, dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5.      Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
6.      Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
7.      Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8.      Mengembangkan kemampuan komunikasi, sosial dan intelektual serta apresiasi seni.
9.      Mencapai kematangan dalam system nilai dan etika.


DAFTAR PUSTAKA


Sukardi, Ketut Dewa, dkk. 2008. Proses Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta
Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta : Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Universitas Pendidikan Indonesia
Ahmadi, Abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang: Toha Putra




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar