Rabu, 13 Februari 2013

LANDASAN SOSIAL BUDAYA BIMBINGAN KONSELING


LANDASAN SOSIAL BUDAYA BIMBINGAN
Dosen :
DR. H. Karyono Ibnu Ahmad

*      Landasan pendidikan meliputi :
1.  Landasan Filosofis
2.  Landasan Psikologis
3.  Landasan Sosial Budaya
4.  Landasan IPTEK
5.  Landasan Paedagogis
6.  Landasan Religius
7.  Landasan Yuridis Formal

1. Landasan Filosofis
n  Landasan filosofis membahas mengenai hakikat manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.
n  Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.

*  Arbukle mengemukakan 5 persoalan filosofis yang berpengaruh dalam pelaksanaan konseling :
n  Konsep diri (self concept), suatu pengangan hidup yang akan berpengaruh dalam melaksanakan konseling.
n  Orientasi agama konselor, akan berpengaruh dalam proses konseling, baik untuk konselor maupun konselinya (siswa).
n  Falsafat antropologi, bagaimana cara konselor memandang hakekat anak.
n  Pendidikan konselor, apabila konselor tidak mempunyai pendidikan yang profesional, memandang anak semaunya saja, sedangkan sebaliknya memandang anak sesuai dengan apa adanya anak itu.
*      Value (nilai) yang dimiliki konselor

2. Landasan Psikologis
n  Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
n  Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian.
a.  Motif & Motivasi
n  Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya.
n  Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi suatu bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan yaitu mengarah kepada hal yang lebih baik.
b.  Pembawaan & Lingkungan
n  Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu.
n  Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu.
n  Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot).
n  Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang
c.       Perkembangan Individu
n  Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
n  Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan
d. Belajar
n  Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya serta berbudaya.
n  Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu.
e. Kepribadian
n  Menurut pendapat Gordon W.Allport, bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 

*  Yang mencakup aspek-aspek kepribadian yaitu :
n  Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
n  Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
n  Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.

*      Yang mencakup aspek-aspek kepribadian yaitu :
n  Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
n  Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
n  Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

3. Landasan Sosial - Budaya
n  Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.
n  Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda.

*      Pederson mengemukakan 5 macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial & penyesuain diri antar budaya, yaitu :
1.  Perbedaan bahasa
2.  Komunikasi non-verbal
3.  Stereotipe (menyamaratakan sifat-sifat individu)
4.  Kecendrungan menilai
5.  Kecemasan

*      Tata nilai sos-bud akan berpengaruh terhadap pendidikan & bimbingan, oleh krn itu perlu diperhatikan :
  1. Tata nilai warisan budaya bangsa yg menjadi falsafah hidup rakyatnya. Misalnya: nilai ketuhanan,kekeluargaan,musyawarah mufakat,gotong royong & tenggang rasa (tepo seliro).
  2. Nilai-nilai filsafat negara yaitu pancasila
  3. Nilai-nilai budaya & tradisi bangsanya. Misalnya: bahasa nasional,adat istiadat,unsur-unsur kesenian, & cita-cita yg berkembang.
  4. Tata kelembagaan dalam hidup bermasyarakat & kenegaraan baik yg formal maupun non-formal.

4.Landasan IPTEK
n  Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.
n  Bimbingan dan konseling sebagai ilmu yang multireferensial menerima sumbangan dari ilmu-ilmu lain dan teknologi, penelitian dalam bimbingan dan konseling memberikan masukan penting bagi pengembangan keilmuan Bimbingan konseling.
n  . Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”.

5.  Landasan Paedagogis
n  Landasan pedagogis mengemukakan bahwa bimbingan merupakan salah satu bagian dari pendidikan yang amat penting dalam upaya untuk memberikan bantuan (pemecahan-pemecahan masalah) motivasi agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan

*      Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan & konseling ditinjau dari 3 segi, yaitu :
1.      pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan;
2.      pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling; dan
3.      pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling.

6.      Landasan Religius
n  Landasan religius menggambarkan sisi-sisi agama yang perlu dikorek, diaplikasikan kedalam pelayanan bimbingan & konseling, karena bimbingan & konseling tidak akan lepas dari manusia sebagai objeknya & realitas bahwa manusia merupakan makhluk religius.
n  Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual.
n  Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan.
n  Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.
*      Landasan religius dalam layanan bimbingan & konseling ditekankan pada 3 hal, yaitu :
1.  manusia sebagai makhluk Tuhan;
2.  sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; 
3.  upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah.

n  Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.
n  Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan.

7.      Landasan Yuridis Formal
n  Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia.


Pendidikan & Stratifikasi Sosial

*  Cara menentukan golongan sosial :

1.  Metode objektif
                        Stratifikasi sosial ditentukan oleh kriteria objektif. Misalnya : jumlah pendapatan, tingginya pendidikan dan jenis pekerjaan.
2.  Metode subjektif
                        golongan sosial dirumuskan menurut pandangan masyarakat, menilai dirinya dalam hierarki kedudukannya dalam masyarakat itu.
3.  Metode Reputasi menurut W.L Warner
                        metode sosial dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat.


*      Metode reputasi menurut Warner, membedakan golongan menjadi 3, yaitu :



*      Kekurangan metode reputasi :
  1. Hanya digunakan bagi masyarakat kecil karena saling mengenal. Misalnya : desa, dusun, dan sebagainya.
  2. Tidak menggambarkan struktur sosial yang sebenarnya dalam masyarakat kecil

*      Golongan sosial menentukan lingkungan sosial :
  1. Sifat seseorang ditentukan oleh lingkungan atau golongan lingkungan dimana dia tinggal
  2. Golongan bawah sulit memasuki golongan menengah, tetapi dapat saja apabila dia berusaha maksimal, misalnya dengan pendidikan tinggi.
  3. Orang-orang biasanya bergaul sesuai dengan golongannya sendiri.





Add caption



Mobilitas Sosial

n Mobilitas sosial : suatu sektor dalam masyarakat yang secara keseluruhan berubah kedudukan kesektor lain, atau dalam pengertian lain….
n Mobilitas sosial : suatu sektor dalam masyarakat merosot dalam keseluruhan, atau…
n Mobilitas sosial : terjadi perpindahan golongan dari golongan atas kebawah atau sebaliknya.


*      Kenaikan golongan sosial dapat diselidiki dengan :
n  Meneliti riwayat pekerjaan seseorang
n  Membandingkan kedudukan sosial individu dengan kedudukan orang tua.
n  Pendidikan dan mobilitas sosial disini, dimaksudkan bahwa pendidikan dipandang sebagai suatu jalan untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dimasyarakat. Makin tinggi pendidikan , maka dalam meraih sesuatu dapat terbuka kesempatannya.
n  Pendidikan merupakan jalan bagi mobilitas sosial.

*      Kompetensi yg harus dimiliki oleh guru BK :

1.  Menguasai bahan bimbingan, selain bahan yang didapat pada saat perkuliahan, melainkan didapat pula bahan bimbingan lain yang harus dikuasai.
2.  Mengelola layanan bimbingan,
            a. menguasai prinsip-prinsip & teknik-teknik layanan bimbingan kepada siswa
            b. bekerja sama dengan guru sehubungan dengan tugas umum bimbingan
            c. bekerjasama dengan kepsek sehub dengan tanggungjawab kepada murid
d. bekerjasama dengan ortu/ keluarga sehub dgn tanggungjawab terhadap      anaknya
            e. menguasai prosedur kerjasama dengan masy luar
            f. menilai hasil guna layanan bimbingan

3. Mengelola layanan konseling,
            a. mempersiapkan pelaksanaan konseling
            b. melaksanakan wawancara konseling secara individual
c. melaksanakan wawancara konseling secara kelompok & bentuk bantuan kelompok yang lain
            d. melaksanakan tahapan tindak lanjut konseling
            e. menilai hasil guna layanan konseling
4. Menyelenggarakan administrasi bimbingan disekolah :
            a. mengenal adm bimbingan konseling di sekolah
            b. menyelenggarakan adm bimbingan konseling disekolah
            c. memahami atas penyelenggaraan supervisi pembelajaran
5. Melaksanakan tugas-tugas bimbingan yang berkaitan dengan pengajaran :
a. bekerjasama dengan guru merencanakan & melaksanakan program-program pengajaran yang berkaitan dengan bimbingan (remedial teaching, penjurusan)
            b. bekerjasama dengan guru dalam pemberian bantuan belajar kepada murid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar