Rabu, 13 Februari 2013

REMEDIAL TEACHING


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap siswa mempunyai hasil yang berbeda-beda dalam proses belajar mengajar. Atas dasar perbedaan individual siswa inilah, guru harus menggunakan berbagai pendekatan dengan anggapan bahwa bila siswa mendapat kesempatan belajar sesuai kemampuan pribadinya diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Dan untuk membantu setiap pribadi siswa dalam mencapai hasil prestasi yang optimal, maka sebaiknya digunakan pendekatan pengajaran perbaikan.
Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagtai instruktur, konselor, petugas psikologis, sebagai media, sebagai sumber dan sebagainya. Dalam fungsi yang ganda ini guru bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pengajaran khususnya peningkatan prestasi belajarnya. Dalam rangka ini pengajaran perbaikan merupakan peluang yang besar bagi setiap siswa untuk mencapai prestasi belajar secara optimal.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan remedial teaching atau pengajaran perbaikan ?
b.      Apa tujuan pengajaran perbaikan atau remedial teaching ?
c.       Apa fungsi pengajaran perbaikan atau remedial teaching ?
d.       Bagaimana perbandingan pengajran biasa dengan pengajaran perbaikan atau remedial teaching ?
e.       Mengapa perlu pengajaran perbaikan atau remedial teaching ?
f.       Apa hubungan pengajaran perbaikan dengan proses belajar mengajar ?
g.      Apa saja yang menjadi sifat khusus pengajaran perbaikan dan masalahnya ?
h.      Bagaimana pemahaman remedial teaching untuk perbaikan pembelajaran ?
i.        Bagaimana prosedur pelaksanaan pengajaran remedial teaching ?
j.        Pendekatan dan metode apa yang digunakan dalam remedial teaching ?

C.    Tujuan
            Agar guru dan siswa lebih dapat mengenal dan memahami apa itu remedial teaching atau pengajaran perbaikan melalui makalah ini.

D.    Manfaat
1.      Guru mata pelajaran
Menambah pengetahuan tentang remedial teaching.
2.      Siswa
Dapat memahami tentang apa itu remedial teaching.

BAB II
PENGAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL TEACHING)

A.    Pengertian Pengajaran Perbaikan
Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran perbaikan atau remewdial teaching itu adalah bentuk khusus pengajaran yang berfungsi untuk menyembuhkan atau membetulkan atau membuat jadi baik. Dengan demikian perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa melalui keseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan pribadi siswa.
Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi terapis untuk (penyembuhan). Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan (gangguan) kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbale balik dalam arti perbaikan belajar juga perbaikan pribadi dan sebaliknya.
Remedial teaching berasal dari kata remedy (Inggris) yang artinya menyembuhkan. Istilah pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk anak luar biasa yang mengalami berbagai hambatan (sakit). Pengertian itu lalau berkembang seperti uraian tersebut, sehingga anak yang norml pun memerlukan pelayanan pengajaran remedial (remedial teaching).

B.     Tujuan Pengajaran Perbaikan
Secara umum pengajaran perbaikan tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan sekolah melalui proses perbaikan.
Secara terperinci tujuan pengajaran perbaikan, yaitu :
1.      Agar siswa dapat memahami dirinya khususnya presatsi belajarnya.
2.      Dapat memperbaiki atau mengubah cara belajar kea rah yang lebih baik.
3.      Dapat memilih fasilitas dan materi belajar secara tepat.
4.      Dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
5.      Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.

C.    Fungsi Pengajaran Perbaikan
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, pengajaran perbaikan mempunyai fungsi :
1.      Korektif
Artinya dalam fungsi ini pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan antara lain :
a)      Perumusan tujuan
b)      Penggunaan metode
c)      Cara-cara belajar
d)     Materi dan alat pelajaran
e)      Evaluasi
f)       Segi-segi pribadi dan lain-lain

2.      Pemahaman
Artinya dari pihak guru, siswa atau pihak lain dapat memahami siswa.

3.      Penyesuaian
Penyesuaian pengajaran perbaikan terjadi antara siswa dengan tuntutan proses belajarnya. Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil lebih baik lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan belajar sehingga mendorong untuk lebih belajar.

4.      Pengayaan
Maksud pengajaran perbaikan itu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran perbaikan sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya.

5.      Akselarasi
Maksudnya pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar baik dari segi waktu maupun materi.

6.      Terapsutik
Secara langsung maupun tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang. Penyembuhan ini dapat menunjang pencapaiuan prestasi belajar dan pencapaian prestasi yang baik dapat mempengaruhi pribadi (timbale balik).

D.    Perbandingan Pengajaran Biasa dengan Pengajaran Perbaikan

1.      Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketehaui kesulitan belajar kemudian diadakan pelaytanan khusus.
2.      Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannya disesuaiakan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
3.      Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedang metode dalam pengajaran perbaikan berderefensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan).
4.      Pengajaran biasa dilakukan oleh guru. Sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerjasama)
5.      Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi (penggunaan tes diagnostik, sosiometri, alat-alat laboratorium, dan lain-lain).
6.      Pengajaran perbaikan lebih deferensial dengan pendekatan individual.
7.      Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

E.     Perlunya Pengajaran Perbaikan
Dalam hubungan kegiatan proses belajar mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Karena itu, pengajaran perbaikan ini perlu dilkuasi setidak-tidaknya diknael oleh guru bidang studi dan petugas bimbingan konseling. Derngan  demikian pengajarn perbaikan ini perlu dibuat dari segi :
1.      Siswa
Kenyataannya menunjukkan bahwa siswa mempunyai hasil proses belajar mengajar yang berbeda-beda. Dalam pedagogik perbedaan individual ini harus diterima atau merupakan prinsip dalam setiap situasi pendidikan. Pendidik atau guru selalu berhadapan dengan anak yang konkret yang tidak ada bandingannya dengan anak yang lainnya. (Dr. H.J. Langeveld menyebutkan prinsip individualisasi). Kenyataannya menujunkkan dalam proses belajar mengajar selalu dijumapaiu adnya anak yang berbakat, kemampuan tinggi, ada yang kurang berbakat, ada yang cepat, ada yang lambat di samping lata belakang mereka yang berbeda-beda. Atas dasar itulah perlu adanya pelayanan yang bersifat individual dalam proses belajar mengajar yang menyangkut masalah bahan, matode, alat, evaluasi, dan sebagainya. Ada beberapa perbedaan individual yang menjadi dasar perhatian antara lain sebagai berikut :
a)      Perbedaan kecerdasan (intelegensi).
b)      Perbedaan hasil belajar (achievement)
c)      Perbedaan bakat (aptitude)
d)     Perbedaan sikap (attitude)
e)      Perbedaan kebiasaan (habbit)
f)       Perbedaan pengetahuan (knowledge)
g)      Perbedaan kepribadian (personality)
h)      Perbedaan kebutuhan (need)
i)        Perbedaan cita-cita (ideal)
j)        Perbedaan minat (interest)
k)      Perbedaan fisik (phisically)
l)        Perbedaan lingkungan (environment)

2.      Guru
Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagtai instruktur, konselor, petugas psikologis, sebagai media, sebagai sumber dan sebagainya. Dalam fungsi yang ganda ini guru bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pengajaran khususnya peningkatan prestasi belajarnya. Dalam rangka ini pengajaran perbaikan merupakan peluang yang besar bagi setiap siswa untuk mencapai prestasi belajar secara optimal.

F.     Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar

Dalam kurikulum sekolah, metode dan penyampaiannya dipergunankan pendektan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional (PPSI).
Pendekatan ini dianggap sebagai salah satu system yang efesien dan efektif untuk mencapai tujuan yang optimal dengan melalui satuan pelajaran. Satuan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar guna membahas suatu bahan atau suatu bahsan, dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih khusus (tujuan intruksional khusus). Tujuan intruksional khusus ini hendaknya dirumuskan dengan jelas, dapat diukur, serta dalam bentuk tingkah laku murid.

Dengan rumusan dan tujuan yang jelas akan memudahkan menyususn dan mengembangkan bahan pengajaran, alart pengajaran serta  rencana dan pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar. Secara garis besar kegiatan proses belajar mengajar dengan pendekatan PPSI itu sebagai berikut :
1.      Rencana mengajar yang meliputi :
a)      Perumusan TIK dan Tujuan Khusus Pengajaran (TKP)
b)      Penyususnan alat evalusi
c)      Penentuan materi pengajaran
d)     Penentuan kegiatan belajar mengajar

2.      Melaksanakan pengajaran dengan satuan pelajaran dengan kerangka :
a)      Bidang pengajaran
b)      Mata pelajaran atau sub bidang pengajaran
c)      Satuan bahsan
d)     Kelas atau tingkat
e)      Semester
f)       Waktu
1)      Tujuan Intruksional Umum atau Tujuan Umum Pengajaran (TUP)
2)      Tujuan Intruksional Khusus atau Tujuan Khusus Pengajaran (TKP)
3)      Materi pelajaran
4)      Kegiatan belajar mengajar
5)      Alat dan sumber pelajarn
6)      Evaluasi

3.      Evaluasi yang merupakan umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar :
1.      Bagi guru bila TIK bisa tercapai dipergunakan untuk merevisi program.
2.      Bagi siswa bila TIK tidak tercapai diadakan remedial atau pengajaran perbaikan.
4.      Melaksanakan pengajaran dan evaluasi.
5.      Umpan balik :
1.      Revisi program
2.      Remedial
Dengan melihat kerangka dasar kegiatan-kegiatan program belajar mengajar dengan pendekatan PPSI tersaebut maka pengajaran perbaikan atau remedial teaching memegang peranan, khususnya dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal (belajar tuntas).

G.    Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya

Kebiasaan pengajaran perbaikan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang diderita siswa. Tekanannya pada usaha perbaikan keseluruhan  proses belajar mengajar menyangkut masalah cara belajar, metode belajar, materi, alat, lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar.
Sehubungan dengana masalah ini maka perlu kiranya dipahami oleh para guru dan petugas bimbingan , setidak-tidaknya diketahui prinsip-prinsipnya masalah-masalah yang menyangkut :
a.      Cara belajar siswa
Pada dasarnya siswa belajar dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Eksplorasi
Siswa mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sesuatu melalui seluruh indranya, kemudian dikembangkan melalui berbagai usaha, melakukan sendiri dengan bermacam-macam alternatif.
2. Coba-coba
Melalui trial and error, siswa belajar memecahkan suatu permasalahan.
3. Rasa tidak senang
Dengan merasa tidak senang, siswa akan belajar menghindari kesalahan.
4. Rasa gembira
Sesuatu yang menyenangkan cenderung untuk mengulang, dan sebaliknya sesuatu yang tidak enak cenderung untuk dihindari.
5. Imitasi
Belajar melalui peniruan / pengamatan yang paling sering dilakukan.
6. Partisipasi
Belajar melalui peniruan, berati siswa berpartisipasi secara aktif (learn be doing), itulah prinsip pedagogik dewasa ini.
7. Komunikasi
Semakin mudah komunikatif, makin menarik sesuatu hal untuk dipelajari
b.      Kondisi belajar
1.      Kondisi Umum
a)      Stimulasi belajar
Pesan yang diterima oleh siswa berupa stimulus yang berbentuk visual, auditif, verbal, taktil, dsb. Dalam kegiatan belajar mengajar, bahan yang disajikan harus benar-benar diinformasikan dan dapat diterima oleh siswa dengan baik dengan cara prinsip pengulangan, dimana pinsip ini akan membantu siswa lebih dari sekali kesempatan untuk menerima dan menstruktur pesan yang disampaikan oleh guru.

b) Perhatian dan Motivasi
Siswa harus memperhatikan stimulus belajar yang mengandung pesan dan harus mereka terima untuk berlangsungnya kegiatan belajar. Oleh karena itu, sesuatu yang paling penting dalam kegiatan belajar dan untuk mempertahankan perhatian diperlukan adanya motivasi sehingga kegiatan belajar berlangsung dan berhasil baik

c) Respons yang dipelajari
Oleh karena belajar itu proses aktif, maka siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang dipelajari. Pelibatan ini meliputi perhatian, proses internal, dan tindakan yang nyata. Karena itu, agar hasil belajar dapat dinilai, maka tujuan harus dirumuskan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati.

d) Penguatan dan umpan balik
Secara teori, bila suatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan untuk mengulanginya. Siswa harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas.

e) Pemakaian dan pemindahan
Salah satu prinsip pemakaian kembali informasi yang telah dipelajari adalah mind (jiwa) harus membuat suatu alamat terhadap stimulus yang tersedia pada saat dibutuhkan.
f) Kemampuan belajar
2. Kondisi Khusus
a. Kondisi belajar informasi
Yang termasuk belajar informasi adalah belajar lambing, kata-kata, istilah, definisi, persamaan, pernyataan sifat, dll. Informasi yang dipelajari sering disebut fakta pengetahuan atau isi yang biasa dipelajari dengan cara menghafalkan karena akan menghemat waktu bila sering digunakan. Siswa perlu diberikan penjelasan tentang apa yang harus dipelajari, hasil yang diharapkan, manfaat materi pelajaran baginya.
b. Kondisi belajar konsep
Konsep atau pengertian yaitu serangkaian perangsang dengan sifat-sifat yang sama. Mempelajari konsep mempunyai tiga dimensi, yaitu :
Pengembangan secara internal pola mental yang memberikannya perasaan dan kemampuan untuk menggunakannya.
Verbalisasi, deskripsi, atau definisi.
Pemberian nama untuk konsep tersebut.
c. Kondisi belajar prinsip
Prinsip yaitu pola antar-hubungan fungsional antara konsep-konsep. Belajar prinsip sama dengan belajar konsep. Prinsip merupakan sarana penting untuk merumuskan pemecahan masalah.
d. Kondisi belajar keterampilan
Keterampilan dibedakan menjadi dua, yaitu intelektual dan psikomotor. Belajar keterampilan memerlukan latihan dalam mengkoordinasikan gerak motorik dengan kegiatan mental yang kompleks.
Kondisi khusus belajar keterampilan , yaitu :
Tujuan dan nilai dijelaskan.
Ditujukan demonstrasi dari yang mampu.
Keterampilan dasar diberikan.
Untuk meningkatkan perbaikan perlu evaluasi kegiatan secara cepat.
e. Kondisi belajar sikap
Berbagai bentuk penguasaan sikap yaitu pengenalan perhatian, ganjaran. Oleh karena itu, jika siswa menjauhi sekolah mempunyai pengalaman negatif terhadap pelajaran dan sebaliknya.

c.       Strategi pengajaran
Strategi pengajaran berhubungan dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Dengan kata lain, strategi pengajaran adalah kegiatan yang dipilih guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan kepada siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Secara umum pemilihan strategi pengajaran dipengaruhi oleh :
  • Penerimaan pengetahuan
  • Aplikasi pengetahuan
  • Tujuan yang bersifat perubahan sikap (perasaan)
d.      Hubungan guru siswa
Hubungan guru-siswa dalam proses belajar mengajar yang diharapkan adalah hubungan yang manusiawi. Maka yang penting bagi guru adalah bagaimana membawa siswa memperoleh pengertian sesuai dengan pribadinya. Mengenai tujuan pendidikan yang penting menurut aliran humanistic adalah menyadarkan kemampuan anak sendiri, membantu mereka bagaimana memahami orang lain, menyiapkan masa depan mereka, melatih cara mereka berpikir, dan mengambil keputusan sendiri. Atas dasar inilah, guru tidak lagi berperan sebagai pusat kegiatan/perhatian, melainkan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemampuannya. Umtuk itu, guru perlu mengusahakan iklim yang menunjang efektifitas belajar, seperti :
  • Memberi kebebasan kepada siswa dalam menyelesaikan tugasnya.
  • Mengusahakan suasana belajar yang hangat.
  • Menghargai siswa.
  • Memberikan tugas-tugas yang menantang.
  • Mengontrol disiplin siswa.
  • Menilai keberhasilan, dan sebagainya.


e.       Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas menunjukkan kepada berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk mempertahankan/menciptakan kondisi yang optimal bagi tercapainya proses belajar mengajar. Pengelolaan kelas meliputi pengaturan tingkah laku antara ruang sehingga tercipta kemudahan-kemudahan dalam belajar. Masalah pengelolaan kelas ini berkenaan dengan masalah kondisi dan situasi, administrasi teknik, dimensi pengelolaan, dan kedisiplinan siswa.

f.       Bidang studi
Pengetahuan tentang psikologi bidang studi perlu diketahui bagi guru maupun konselor, yaitu :
1)      Bahasa
Efektivitas dalam bidang studi banyak tergantung dari penguasaan bahasa. Faktor-faktor psikis yang mempengaruhi perkembangan dan kemampuan bahasa yaitu lingkungan anak, intelegensi, emosi, dan alat bicara. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat melihat hambatan bahasa baik jasmani maupun psikis. Hambatan itu misalnya salah ucap, salah ejaan, selain tata bahasa kesalahan membaca. Dalam remedial teaching, bahasa dapat diartikan sebagai bantuan pengajaran untuk membetulkan kesalahan yang sudah terjadi dan harus didahului dengan menghilangkan hambatannya.

2)      Berhitung/matematika
Beberapa ahli seperti Brownwell, Kuechner, dan Rein berdasarkan pengalamannya, menyatakan bahwa remedial teaching berhitung dapat diartikan penyusunan kembali pengalaman yang telah diperoleh terlebih dahulu. Oleh karena itu, usaha guru harus direncanakan secara matangdan dilakukan dengan kematangan.

3)       Pengetahuan alam/pengetahuan sosial
Pengamatan dan pengalaman adalah dasar dari mendapatkan pengertian dalam bidang pengetahuan alam dan sosial. Pengetahuan alam yang terutama adalah memberikan pengetahuan tentang isi alam semesta, bagaimana aktivitas kerjanya, dan mengapa demikian. Sedangkan pengetahuan sosial menggunakan penemuan-penemuan dalam pengetahuan alam tentang apa yang berguna dan baik bagi kesejahteraan manusia.

H.    Memahami Kegiatan Remedial dan Perbaikan untuk Perbaikan Pembelajaran
Kegiatan remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran. Sesuai dengan pengertiannya, tujuan kegiatan remedial ialah membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku.
Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, fungsi kegiatan remedial adalah:
  1. memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru (fungsi korektif);
  2. meningkatkan pemahaman guru dan siswa terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya (fungsi pemahaman);
  3. menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa (fungsi penyesuaian);
  4. mempercepat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran (fungsi akselerasi); dan
  5. membantu mengatasi kesulitan siswa dalam aspek sosial-pribadi (fungsi terapeutik).
Perbedaan kegiatan remedial dari pembelajaran biasa terletak pada pendekatan yang digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kegiatan remedial direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan individu atau kelompok siswa. Sedangkan pembelajaran biasa menerapkan pendekatan klasikal, baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaannya.
Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan (preventif); setelah kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar (kuratif); atau selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran biasa (pengembangan).
Dalam melaksanakan kegiatan remedial guru dapat menerapkan berbagai metode dan media sesuai dengan kesulitan yang dihadapi dan tingkat kemampuan siswa serta menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial adalah:
  1. analisis hasil diagnosis kesulitan belajar,
  2. menemukan penyebab kesulitan,
  3. menyusun rencana kegiatan remedial,
  4. melaksanakan kegiatan remedial, dan
  5. menilai kegiatan remedial.
I.       Prosedur Pelaksanaan Remedial Teaching atau Pengajaran Perbaikan
Remedial teaching yang merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui prosedur sebagaimana berikut :
1)      Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya. Tujuan penelitian kembali kasus ini adalah agar memperoleh gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara dan kemungkinan pemecahannya. Berdasarkan penelitian kasus, akan dapat ditentukan siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial teaching.
2)      Menentukan tindakan yang harus dilakukan. Dalam langkah ini, dilakukan usaha-usaha untuk menentukan karakteristik kasus yang ditangani tersebut. Setelah karakteristik ditentukan, maka tindakan pemecahannya harus dipikirkan, yaitu sebagai berikut :
a) Kalau kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan remedial teaching kepada siswa tersebut.
b) Kalau kasusnya tergolong cukup dan berat, maka sebelum diberikan remedial teaching, harus diberikan layanan konseling terlebih dahulu untuk mengatasi hambatan-hambatan emosional yang mempengaruhi cara belajarnya.
Berdasarkan karakteristik kasus tersebut, maka pada tahap kedua ini adalah membuat keputusan tentang cara mana yang harus dipilih. Untuk itu, beberapa pertimbangan yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan, yaitu :
a) Faktor efektivitas, yaitu ketepatan tercapainya tujuan remedial teaching.
b) Faktor efisiensi, yaitu sedikitnya tenaga, biaya, dan waktu yang dipergunakan, namun hasilnya dapat seoptimal mungkin.
c) Faktor kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu, fasilitas, dan kesempatan yang tersedia.
3)      Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling. Tujuan dari layanan khusus bimbingan konseling ini adalah mengusahakan agar siswa yang terbatas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar. Bentuk konseling di sini bisa berupa pdikoterapi yang dilakukan oleh psikolog. Tetapi ada kalanya kasus ini dapat dilakukan oleh guru sendiri.
4)      Langkah pelaksanaan remedial teaching. Sasaran pokok pada langkah ini adalah peningkatan prestasi maupun kemampuan menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
5)      Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa. Dengan diselesaikannya pelaksanaan remedial teaching, maka selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap perubahan yang terjadi dalam diri siswa yang bersangkutan dengan alat tes sumatif.
6)      Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik. Hasil pengukuran yang dilakukan pada langkah ke lima kemudian ditafsirkan dengan membandingkan dengan kriteria proses belajar mengajar yang sesungguhnya. Adapun hasil penafsiran itu dapat terjadi tiga kemungkinan, yaitu sebagai berikut :
a) Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
b) Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang diharapkan.
c) Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi.
Sebagai tindak lanjut dari langkah remedial teaching ada tiga kemungkinan :
a) Bagi kasus yang berhasil, maka selanjutnya diteruskan ke program berikutnya.
b) Bagi kasus yang belum berhasil sepenuhnya, diserahkan kepada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
c) Bagi kasus yang belum berhasil, perlu didiagnosis lagi untuk mengetahui letak kelemahan remedial teaching untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alternatif yang sama.

J.      Pendekatan dan Metode Dalam Pengajaran Perbaikan atau Remedial Teaching
1)         Pendekatan yang bersifat kuratif
Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang/sejumlah siswa yang tidak mampu menyelesaikan program belajar secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat menggunakan berbagai pendekatan sbb:
Pengulangan
Pelaksanaannya dapat secara :
1) Individual, kalau ternyata yang mengalami kesulitan terbatas.
2) Kelompok, kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu mempunyai kesulitan yang sama.

Pengayaan/pengukuhan
Layanan ini dikenakan pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik mungkin termasuk berbakat dengan cara pemberian tugas yang dapat dikerjakan di rumah ataupun di kelas.

Percepatan (akselerasi)
Layanan ini ditujukan kepada siswa yang berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial (ego emosional) dengan jalan mengadakan akselerasi atau promosi yang lebih tinggi kepada program PBM utama berikutnya. Ada dua kemungkinan pelaksanaannya, yaitu :
1) Promosi penuh status akademinya ke tingkat yang lebih tinggi sebatas kemungkinannya,kalau memang siswa tersebut menunjukkan keunggulan yang menyeluruh dari semua bidang studi yang ditempuhnya dengan luar biasa.
2) Maju berkelanjutan bila siswa tersebut hanya unggul di beberapa bidang studi.

2)       Pendekatan yang bersifat preventif
Pendekatan ini ditujukan kepada siswa tertentu yang berdasarkan informasi diprediksikan akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Oleh karena itu, sasaran pokok dari pendekatan preventif ini adalah berusaha semaksimal mungkin agar hambatan-hambatan yang diprediksi itu dapat direduksi seminimal mungkin sehingga siswa yang bersangkutan diharapkan dapat mencapai prestasi dan kemampuan penyesuaian sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pendekatan preventif bertolak dari hasil pre-test atau evaluasi reflektif. Atas dasar inilah, maka ada tiga kemungkinan teknik layanan pengajaran yang bersifat remedial, yaitu layanan pengajaran  kelompok yang diorganisasikan secara homogen, layanan pengajaran secara individual, dan layanan pengajaran  dilengkapi kelas khusus.

3)       Pendekatan yang bersifat pengembangan
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung. Sasaran pokok dari pendekatan ini adalah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil.

4)      Metode dalam remedial teaching
Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan , yaitu :


1) Tanya jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu memungkinkan terbinanya hubungan baik antara guru dan siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan sebagainya.
2) Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa.
3) Tugas
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam materi yang telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
4) Kerja kelompok
Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.
5) Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.

6)  Pengajaran individual
adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Remedial teaching berasal dari kata remedy (Inggris) yang artinya menyembuhkan. Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran perbaikan atau remewdial teaching itu adalah bentuk khusus pengajaran yang berfungsi untuk menyembuhkan atau membetulkan atau membuat jadi baik.
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, pengajaran perbaikan mempunyai fungsi :
1.      Korektif
2.      Pemahaman
3.      Penyesuaian
4.      Pengayaan
5.      Akselarsi
6.      Terapsutik
Secara umum pengajaran perbaikan tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan sekolah melalui proses perbaikan.
Dalam hubungan kegiatan proses belajar mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Karena itu, pengajaran perbaikan ini perlu dilkuasi setidak-tidaknya diknael oleh guru bidang studi dan petugas bimbingan konseling. Derngan  demikian pengajarn perbaikan ini perlu dibuat dari segi siswa dan guru.

B.     Saran

1.      Guru pengajar
Supaya guru dapat memahami dan mengenal pengajaran perbaikan atau remedial teaching dan dapat menerapkannya kepada siswa yang mengalai kesuliutan belajar di sekloah.

2.      Siswa
Supaya siswa dapat memahami apa tentang pemberian pengajaran perbaikan atau remedial teaching.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi Abu & Supriyono, W. 2004. Psikologi Belajar. Cet II. Rineka Cipta ; Jakarta.
User Usman & Setiawati Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya ; Bandung.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar