Selasa, 24 September 2013

TEORI KONSELING PSIKOANALISIS


TEORI PENDEKATAN PSIKOANALISIS


RESUME
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Teori dan Pendekatan Konseling
Yang dibina oleh Bapak Dr. Triyono, M.Pd dan Dr. M. Ramili, M.Pd



Oleh
Akhmad Sugianto
130111809209










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
SEPTEMBER 2013


PENDEKATAN PSIKOANALISIS
A.      Nama Pendekatan
Nama pendekatan dalam konseling ini adalah pendekatan konseling psikoanalisis. Pendekatan psikoanalisis merupakan pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya pndekatan-pendekatan lain dalam konseling.

B.       Sejarah Perkembangan
Pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmun Freud (1856-1939). Psikoanalisis mulai diperkenalkan oleh Sigmun Freud pada buku pertamanya yaitu penafsiran atas mimpi (dream interpretation) pada tahun 1900. Ia mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketaksadaran.
Pengertian Psikoanalisis mencakup tiga aspek : (1) sebagai metode penelitian proses-proses psikis; (2) sebagai suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis; (3) sebagai Teori Kepribadian. Psikoanalisis mempunyai beberapa prinsip yaitu:
1. Prinsip konstansi
2. Prinsip kesenangan
3. Prinsip realitas

C.      Hakikat Manusia
Aliran Freud memandang manusia sebagai makhluk deterministic. Menurut Freud, tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional, motivasi bawah sadar (unconsciousness motivation), dorongan (drive) biologis dan insting, serta kejadian psikoseksual selama enam tahun pertama kehidupan.
Instink merupakan pusat dari pendekatan yang dikembangkan Freud. Walaupun pada dasarnya menggunakan istilah libido yang mengacu pada energy seksual, ia mengembangkan istilah ini  menjadi energi seluruh instink kehidupan. Insting-insting ini bertujuan sebagai pertahanan hidup dari individu dan manusia, berorientasi pada pertumbuhan , perkembangan dan kreativitas. Freud juga mengemukakan manusia memiliki insting mati (death instincts), yaitu insting yang berhubungan dengan dorongan agresif (aggressive drive) dan insting hidup (life instincts).
Manusia memiliki gambaran jiwa yang dapat dianalogikan seperti gunung es. Kesadaran (consciousness) yaitu berisikan ide-ide atau hal-hal yang disadari. Prakesadaran (subconciousness) yaitu berisikan ide-ide atau hal-hal yang tidak disadari yang sewaktu-waktu dapat dipanggil  ke kesadaran. Ketidaksadaran (unconsciousness) yaitu berisikan dorongan-dorongan yang sebagian besar sudah ada  sejak lahir yaitu dorongan seksual dan agresi dan sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan bersifat traumatis, sehingga perlu ditekan dan dimasukan dalam ketidaksadaran.
D.      Perkembangan Perilaku
1.    Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalisis, struktur atau organisasi kepribadian individu  terdiri dari tiga system yaitu id, ego dan superego. Tingkah laku manusia hamper selalu merupakan produk interaksi ketiga system tersebut.
Id merupakan system utama kepribadian. Id merupakan rahim trempat ego berkembang. Id adalah sumber utama dan reservoir atau cadangan dari energy-energi psikis dan merupakan penggerak ego dan superego yang berhubungan erat dengan proses-proses jasmani, dari mana energl berasal.
Ego merupakan bagian yang memiliki kontak dengan realitas  dunia luar. Ego bertindak sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, dan meregulasi kepribadian. Ego dapat dianalogikan sebagai polisi lalu lintas (traffic cop) untuk id, superego dan dunia. Tugas utama ego adalah memediasi antara insting dan lingkungan sekitar. Ego berfungsi untuk mewujudkan kebutuhan pada dunia nyata  dan mampu membedakan apa yang ada pada dalam diri dan luar diri yang disebut dengan proses sekunder.
Superego merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan prinsip moral, serta cita-cita tradisional masyarakat. Superego merupakan wewenang moral dari kepribadian dan mempresentasikan hal-hal yang ideal.
System Id, Ego dan Superego saling berinteraksi. Jika Ego gagal menyalurkan kehendak Id menurut batasan realita dan nilai-nilai moral, ia akan dihukum dengan kecemasan. Menurut Freud terdapat tiga kecemasan yang dapat dialami individu yaitu kecamasan realitas, kecemasan moral dan kecemasan neurotic.
2.    Perkembangan Kepribadian
Psikoanalisis memiliki pendekatan yang unik dalam melihat perkembangan kepribadian manusia. Freud mengemukakan perkembangan psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman terhadap permasalah yang dialami oleh konseli. Dalam pendekatan psikoanalisis terdapat lima fase perkembangan psikoseksual yaitu Fase Oral (0-1 tahun) dimana anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya melalui menghisap dan menggigit. Fase Anal (1-3 tahun) pusat kenikmatan terletak pada daerah anus yaitu melalui menahan dan mengeluarkan terutama pada saat buang air besar. Fase Phallic (3-5 tahun) dimana anak mulai memindahkan pusat kepauasan pada daerah kelamin, anak mulai tertarik perbedaan anatomi laki-laki dan perempuan serta pembentukan identitas seksual.
3.    Dinamika Kepribadian
Insting merupakanrepresentasi psikologis yang dibawa sejak lahir yang mengacu pada keinginan (wish) yang merupakan bagian dari kebutuhan (need).
4.    Pribadi Sehat dan Bermasalah
Pribadi yang sehat adalah pribadi yang bisa mengpntrol system id, ego dan superego, sedangkan pribadi yang tidak sehat adalah sebaliknya, pribadi yang tidak bisa mengontrol system id, ego dan superego.
5.    Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan ego (ego-defense mechanism) memiliki dua karakteristik yaitu menyangkal realitas atau mengganti realitas (distort rality). Beberapa ego-defense yang umum digunakan oleh individu yaitu represi (repression) dan supresi (suppression), pembentukan reaksi (reaction formation), proyeksi (projection), rasionalisasi (rationalization), penempatan yang keliru (displacement), fixasi dan regresi, penyangkalan (denial), introyeksi (introjections) dan identifikasi.

E.       Hakikat Konseling
Secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan psikoanalisis hakikat konseling adalah agar individu mengetahui ego dan menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampu memilih secara rasional dan menjadi mediator  antara id dan superego. Konseling dalam pandangan psikoanalisis adalah sebagai proses re-eduksi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional.

F.       Kondisi Pengubahan
1.    Tujuan
Tujuan terapi psikoanalisis adalah membentiuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri konseli, merekonstruksi, membahas, menganalisa, dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau yang terjadi.
2.    Sikap, Peran dan Tugas Konselor
Peran utama konselor dalam konselin ini adalah membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka memperoleh kembali atas tingkah lakunya yang impulsive dan rasional.
3.    Sikap, Peran dan Tugas Konseli
Konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif, dan melakukan asosiasi bebas dengan melakukan atau mengatakan segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannya, karena produksi verbal konseli merupakan esensi dan kegiatan konseling psikoanalisis.
4.    Situasi Hubungan
Dalam konseling psikoanalisis terdapat tiga bagian hubungan konselor dengan klien yaitu Aliansi ( sikap konseli yang rasional dan tidak neurosis), Transferensi (proses pengalihan pengalaman kepada orang yang dipercayai), dan Kontratransferensi (pengembangan pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik oleh konselor).

G.      Mekanisme Pengubahan
1.    Tahap-Tahap Konseling
a.    Tahap Pembukaan
Tahap pembukaan ini terjadi pada permulaan interview hingga masalah klien ditetapkan. Terdapat dua bagian pada tahap ini, yaitu (1) disepakati tentang struktur situasi analisis yang menyangkut tanggung jawab konselor dan klien; (2) bagian kedua dimulai dengan klien menyimpulkan posisinya, sementara konselor terus mempelajari dan memahami dinamika konflik-konflik ketidaksadaran yang dialami klien. Pada tahap ini klien menyatakan tentang dirinya dan konselor mengamati dan merekam untuk referensi tahap berikutnya
b.    Pengembangan Transferensi
Perkembangan dan analisis transferensi merupakan inti dalam psikoanalisi. Pada fase ini perasaan klien mulai ditujukan kepada konselor, yang dianggap sebagai orang yang telah menguasainya di masa lalunya (significant figure person). Pada tahap ini konselor harus menjaga jangan sampai terjadi kontratransferensi, yaitu transferensi balik yang dilakukan konselor pada klien karena konselor memiliki perasaan-perasaan yang tidak terpecahkan. Kontratransferensi ini jangan sampai mengganggu hubungan konseling dan bercampur dengan analisis transferensi klien.
c.    Bekerja melalui transferensi
Tahap ini mencakup mendalami pemecahan dan pengertian klien sebagai orang yang terus melakukan transferensi. Tahap ini dapat tumpang tindih dengan tahap sebelumnya, hanya saja transferensi terus berlangsung, dan konselor berusaha memahami tentang dinamika kepribadian kliennya
d.   Resulosi Transferensi
Tujuan pada tahap ini adalah memecahkan perilaku neurosis klien yang ditunjukkan kepada konselor sepanjang hubungan konseling. Konselor juga mulai mengembangkan hubungan yang dapat meningkatkan kemandirian pada klien dan menghindari adanya ketergantungan klien kepada konselornya.
Jika klien dan konselor berkeyakinan bahwa transferensi bekerja terus, konseling dapat diakhiri maka konselor dapat mengikuti transferensi itu untuk mengembangkan secara obyektif sehingga tercapai otonomi klien.

2.    Teknik-Teknik Konseling
a.    Asosiasi Bebas
Asosiasi bertujuan untuk meninggalkan cara berpikir yang biasa menyensor pikiran.
b.    Analisis Mimpi
mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya.
c.    Analisis Kepribadian (Case Historis)
Diniamika penyembuhan gangguan kepribadian dilakukan dengan melihat dinamika dari dorongan libido terhadap ego dan bagaimana superego menahan dorongan tersebut.
d.   Hipnotis
Hipnotis bertujuan untukmengeksplorasi dan memahami factor ketidaksadaran (unconsciousness) yang menjadi penyebab masalah.
e.    Analisis Resistensi (Analysis of Resistance)
resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi
f.     Analisis Transferensi (Analysis of Transference)
Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut.
g.    Interpretasi (Interpretation)
mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi.

H.      Hasil-Hasil Penelitian
Hasil penelitian psikoanalisis di masa kini contohnya penelitian mengenai “pengaruh katarsis dalam menulis ekspresif  sebagai intervensi depresi ringan pada mahasiswa”. Katarsis dalam asosiasi bebas menurut sudut pandang psikoanalisa merupakan ekspresi dan pelepasan emosi yang ditekan. Pengalaman emosional yang menyakitkan dalam psikoterapi, biasanya melibatkan keasadaran pada materi sebelum ditekan.

I.         Kelamahan dan Kelebihan
1.    Kelebihan
a.    Konselor bisa mengetahui masalah pada diri konseli, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman masa lalu konseli.
b.    Mampu membantu konseli mengetahui masalah yang selama ini tidak disadarinya.
c.    Menolong konseli mendapatkan pengertian  yang terus menerus pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri.
d.   Membentuk kembali kepribadian konseli dengan jalan mengabaikan hal yang tidak disadari menjadi sadar kembali dengan menitik beratkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman masa anak, untuk ditata, didiskusikan, dianalisis, dan ditafsirkan sehingga kepribadian konseli bisa direkonstruksi kembali.
e.    Meningkatkan kesadaran dan control ego terhadap impuls-impuls  dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.

2.    Kelemahan
a.    Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang.
b.    Diperlukan konselor yang benar-benar terlatih untuk melakukan teknik psikoanalisis.
c.    Pandangan yang terlalu diterministik di nilai terlalu merendahkan martabat manusia.
d.   Terlalu menekankan pada libido, padahal tidak semua hal dapat dijelaskan dengan libido
e.    Pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa.


J.        Sumber Rujukan
Komalasari, Gantina. Wahyuni, Eka. Karsih. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT indeks
Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Redaksi Rafika Aditama
Hasanah, S. Maya, A, Dina. Munauwaroh. 2013. Makalah Pendekatan Psikoanalisis. Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar