Rabu, 07 November 2012

ASPEK - ASPEK KECERDASAN MANUSIA


ASPEK – ASPEK KECERDASAN MANUSIA
1.  Kognitif
Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah.
Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :
a.   Pengetahuan (knowledge)
mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
b.   Pemahaman (comprehension)
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
c.   Penerapan (application)
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.
d.   Analisis (analysis)
Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga  struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
e.   Sintesa (evaluation)
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
f.    Evaluasi (evaluation)
Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.
Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian  harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.
2. Afektif
Domain afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa.
Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
a.   Penerimaan (recerving)
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
b.   Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
c.   Penilaian atau penentuan sikap (valung)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.
d.   Organisasi (organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
e.  Karakterisasi /  pembentukan pola hidup (characterization by a value or value                complex)
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Variable-variabel di atas juga  telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:
“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.
3. Psikomotorik
Domain psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.
Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
a.   Peniruan
terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
b.   Manipulasi
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.
c.   Ketetapan
memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
d.   Artikulasi
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.
e.   Pengalamiahan
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini.

ASPEK KECERDASAN MANUSIA
Kecerdasan anak tak hanya diukur melalui ukuran IQ (Intelligence Quotient). Setiap anak memiliki kecerdasan yang majemuk, yakni kecerdasan intelektual (IQ) maupun kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ). Menurut Howard Gardner salah seorang profesor pendidik dan peneliti dari Harvard University Amerika Serikat, ada 9 aspek kecerdasan seorang anak. Istilah yang sering kita dengar adalah multiple intelligences.
Apa sajakah kecerdasan yang terdiri dari 9 kriteria  kecerdasan majemuk tersebut?
1. Kecerdasan musikal
Kecerdasan ini ditunjukkan anak mudah sekali mengikuti dan mengingat lagu. Cara melatihnya adalah dengan mendengarkan musik dan bernyanyi. Mengajarkan anak menyanyikan lagu-lagu sederhana sesuai usia mereka. Melakukan pekerjaan dengan bernyanyi, misalnya saat mandi dan bangun pagi.

2. Kecerdasan Intrapersonal
Berkaitan dengan kemampuan daya tahan, untuk tidak mudah down, gigih berusaha, tidak minder. misalnya ketika  mengikuti perlombaan, tampil depan umum. Cara melatihnya adalah mengajarkan anak untuk terbiasa berada dalam sebuah kelompok dan berinteraksi dengan teman - teman sebayanya.
3.Kecerdasan interpersonal (sosial)
Adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan anak beradaptasi, bekerjasama, berelasi dengan lingkungan teman sebaya dan orang di sekitarnya. Cara melatihnya adalah dengan memberi kesempatan si kecil sering ditemani untuk bergaul bersama teman - teman sebaya, bermain dan berkomunikasi pada anak- anak seusianya.
4. Kecerdasan visual spasial
Adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan memahami pandang ruang. Yakni anak mampu membedakan posisi dan letak serta membayangkan ruang, Di kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang dan samping.
Cara melatihnya adalah setiap melakukan kegiatan yang berhubungan dengan posisi atau ruang hendaknya orang tua selalu sambil menyebutkan, misal : Tolong dong, adik letakkan bukunya di atas meja, atau tolong kakak ambilkan buku yang jatuh di bawah meja. Sebutkan lokasi ruang, ajarkan si kecil melipat, menggunting, membalik dan menggambar.

5. Kecerdasan natural (alam)
Anak diperkenalkan dengan lingkungan hidup selain manusia , yaitu binatang, tumbuhan dan beraneka suasana alam, misalnya sesekali ajak anak memberi makan pada ikan atau ke kebun binatang, mengunjungi taman flora dan bermain di alam terbuka.
6. Kecerdasan kinestetik tubuh
Anak memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan tubuh misalkan gerakan tubuh saat berdoa,  menggambar, melompat, berlari dan olahraga yang menggerakkan tubuh, menari, senam dan sebagainya. Cara melatihnnya ajak anak untuk latihan mencoret dan menggambar garis, lingkaran, melakukan gerakan senam dan menari.
7. Kecerdasan moral
Yaitu kepekaan anak untuk meresap kepatuhan dalam berperilaku yang baik, misalnya tahu mengucapkan terimakasih, maaf, permisi dan membedakan perbuatan baik dan buruk, bisa menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap tata cara kesopanan.  Caranya adalah melatih dalam kelompok bermain dan melakukan peraturan peraturan dalam permainan, ajarkan anak patuh dan memahami aturan sederhana misalnya bermain petak umpet.

8. Kecerdasan verbal linguistik
Anak dapat berbicara dan menceritakan suatu kejadian yang dilihatnya dengan mudah, terangkai dengan baik dan kronologis kejadian tidak melompat lompat. Cara melatihnya adalah sejak dalam kandungan dan setelah lahir anak sering diajak bercakap cakap, berbicara dengan orangtua, teman sepermainan, menceritakan dongeng dan menyanyikan lagu anak - anak.
9. Kecerdasan logika matematika
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak untuk memahami persoalan dan memecahkan teori sederhana yang berkaitan dengan angka. Cara melatihnya adalah mengajarkan anak mengelompokkan mainan yang dimiliki, menghitung buah buahan dan membagikan makanan kecil dan menyebutkan jumlah yang diberikan, mengelompokkan benda mainan seperti dadu berwarna, mainan berbentuk buah dan bunga.
Setiap anak terlahir unik
Jika menemukan kesulitan dengan tahapan perkembangan anak , ibu boleh diskusikan dengan dokter anak atau boleh juga dengan bidan yang telah mengikuti pelatihan untuk KPSP, oya KPSP ini Kuisioner Pra Skrining Perkembangan. Ada beberapa alat dan instrumen juga kuisioner untuk mengukurnya sesuai dengan tahapan dan perkembangan usia.
Setiap anak terlahir unik dan  siap mendapat stimulasi kecerdasan majemuk yang kita berikan di usia emas pertumbuhannya terutama sejak lahir hingga  usia 2 tahun. Dengan rangsangan kecerdasan yang tepat di dukung gisi yang sehat seimbang untuk Balita, akan membantu setiap anak untuk berkembang sesuai tahapan.
Faktor internal dan eksternal  juga sangat berpengaruh, oleh karena itu jaga agar anak tetap sehat selama masa pertumbuhan, penuhi kebutuhan akan kasih sayang dan rasa aman. Tentu ada yang menonjol dari tiap anak dari sembilan kecerdasan majemuk dalam diri seorang anak kelak, namun sebagai orangtua kita berusaha untuk mengembangkan kesembilannya pada saat usia BALITA
Selamat mendampingi putra-putri tercinta dan jangan lupa untuk terus merangsang kecerdasan majemuk agar anak - anak tumbuh dan berkembang sehat sesuai usia.

ASPEK KECERDASAN
Ada 9 aspek kecerdasan yg ada pada manusia. Setiap orang pasti punya aspek ini, minimal 1 aspek. Silahkan disimak….anda unggul diaspek yg mana?
1.Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan dalam mengolah kata-kata secara efektif baik bicara ataupun menulis (jurnalis, penyair, pengacara)
Ciri-ciri :
- Dapat berargumentasi, meyakinkan orang lain, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata
- Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas
2. Kecerdasan Matematis-Logis
Kecerdasan dalam hal angka dan logika (ilmuwan, akuntan, programmer)
Ciri-ciri :
- Mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi
- Berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis
- Pandangan hidupnya bersifat rasional
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri :
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Kecerdasan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresiakan gagasan dan perasaan (atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model)
Ciri-ciri :
- Menikmati kegiatan fisik (olahraga)
- Cekatan dan tidak bias tinggal diam
- Berminat dengan segala sesuatu
5. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk musik dan suara (konduktor, pencipta lagu, penyanyi dsb)
Ciri-ciri :
- Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat
- Dapat mengikuti irama
- Mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan untuk mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan temperamen orang lain (networker, negotiator, guru)
Ciri-ciri :
- Menghadapi orang lain dengan penuh perhatian, terbuka
- Menjalin kontak mata dengan baik
- Menunjukan empati pada orang lain
- Mendorong orang lain menyampaikan kisahnya
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan pengetahuan akan diri sendiri dan mampu bertidak secara adaptif berdasar pengenalan diri (konselor, teolog)
Ciri-ciri :
- Membedakan berbagai macam emosi
- Mudah mengakses perasaan sendiri
- Menggunakan pemahamannya untuk memperkaya dan membimbing hidupnya
- Mawas diri dan suka meditasi
- Lebih suka kerja sendiri
8. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan memahami dan menikmati alam dan menggunakanya secara produktif dan mengembangkam pengetahuan akan alam
(petani, nelayan, pendaki, pemburu)
Ciri-ciri :
- Mencintai lingkungan
- Mampu mengenali sifat dan tingkah laku binatang
- Senang kegiatan di luar (alam)
9. Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia (filsuf, teolog,)
Ciri-ciri :
- Mempertanyakan hakekat segala sesuatu
- Mempertanyakan keberadaan peran diri sendiri di alam/ dunia


Minggu, 20 Maret 2011

USIA LANJUT

A.      Usia Tua dan Gangguan Otak
                   Mayoritas orang-orang usia lanjut mengalami gangguan otak. Gangguan otak yang dialami oleh orang-orang usia lanjut ada dua macam, yaitu gangguan otak demensia dan gangguan otak delirium.
1.      Gangguan Otak Demensia
a.         Pengertian Demensia
       Demensia sering disebut juga sebagai kepikunan. Kepikunan merupkan istilah deskriptif umum bagi kemunduran kemampuan intelektual hingga ke titik yang melemahkan fungsi social dan pekerjaan. Demensia terjadi secara sangat perlahan selama bertahun-tahun, kelemahan kognitif dan behavioral yang hamper tidak terlihatdapat dideteksijauh sebelu orang yang bersangkutan menunjukkan sikap yang tampak jelas (Small dkk, 2000). (Gerald C. Davison dkk, 2006 : 742).
       Kesulitan dalam mengingat banyak hal, terutama berbagai peristiwa-peristiwa baru, ini merupakan simtom utama demensia. Orang-orang yang mengalami demensia mengabaikan standar mereka dan kehilangan kendali atas impuls-impuls mereka.

b.        Penyebab Demensia
       Demensia pada umumnya diklasifikasikan menjadi empat tipe. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit yang pada umumnya menyebabkan demensia. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit yang adanya kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, dan kematian pada jaringan otak  biasanya terjadi 10 atau 12 tahun setelah onset simtom-simtom.

c.         Penanganan Demensia
       Dengan menggunakan psikologis yang diberikan secara umum bersifat suportif, dengan tujuan utamanya untuk meminimalkan gangguan yang ditimbulkan oleh perubahan behavioral pasien. Tujuan ini dicapai dengan memberikan kesempatan bagi pasien dan keluarganya untuk membahas penyakittersebut dan berbagai konsekuensinya, menyediakan informasi yang akurat tentang penyakit, membantu keluarga merawat pasien, dan mendorong dikembangkannya sikap realistic dan bukan katastrofik dalam menghadapi berbagai isu dan tantangan spesifik yang ditimbulkan oleh penyakit otak ini (Knight, 1996; Zarit, 1980).
       Memberikan konseling bagi penderita penyakit Alzheimer merupakan hal yang sulit. Karena menurunnya kemampuan kognitif. Psikoterapi hanya sedikit memberikan manfaat jangka panjang bagi mereka yang mengalami kemunduran parah. Keterbatasan kognitif pada orang-orang menderita demensiaharus selalu ditangani dengan kelembutan.

2.      Gangguan Otak Delirium
a.         Pengertian Delirium
       Istilah delirium berasal dari bahasa Latin de, yang berarti “dari” atau “di luar” dan lira, yang berarti “celah” atau “jalur”. Istilah tersebut merujuk pada kondisi keluar jalur atau menyimpang dari kondisi normal (Wlls & Duncan, 1980).

b.        Penyebab Delirium
       Penyebab delirium pada orang lanjut usia dapat dibagi dalam beberapa kelompok umum, yaitu intokasi obat dan putus obat, ketidakseimbangan metabolism dan nutrisi, infeksi atau demam, gangguan neurologis, dan stress karena perubahan lingkungan sekeliling orang yang bersangkutan (Knight, 1996). Delirium juga dapat terjadi setelah menjalani operasi besar, yang paling sering adalah operasi tulang pinggul (Zarit & Zarit, 1998).
       Penyakit fisik umumnya yang menyebabkan delirium dalam kelompok umur ini mencakup gagal jantung karena penyumbatan, infeksi saluran urin, kanker, gagal ginjal atau hati, malnutrisi, dan kecelakaan atau stroke.

c.         Penanganan Delirium
       Penanganan delirium dapat dilaksankan dengan menggunakan strategi pencegahan primer, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya delirium sejak awal.

B.       Usia Lanjut dan Gangguan Psikologis
1.    Prevalensi Lengkap Gangguan Mental di Usia Lanjut
            Mayoritas orang-orang yang berusia 65 tahun atau lebih tidak mengalami psikopatologi serius, namun 10 hingga 20 persen memang mengalami masalah psikologis yang cukup parah sehingga memerlukan perhatian professional. Diantara mereka yang menderita penyakit mental parah, banyak tinggal di tengah-tengah komunitas dan cenderung hidup dalam kemiskinan, menderita tiga macam penyakit fisik atau lebih, dan hanya menerima sedikit bantuan dari sistem kesehatan mental selain pemberian obat. Saat ini, sistem perawatan kesehatan tidak melayani kebutuhan para lanjut usia yang sakit mental dengan baik.   
2.    Depresi
            Sebagian besar orang lanjut usia mengalami depresi, namun depresi yang mereka alami merupakan kelanjutan suatu kondisi yang terjadi di masa usia terdahulu.
            Karakteristik depresi pada lanjut usia pada umumnya rasa khawatir, rasa tidak berguna, sedih, pesimis, tidak dapat tidur, dan sulit untuk mengerjakan segala sesuatu. Penyebabnya adalah penyakit fisik dan pikiran mereka yang negatif.
            Penyakit depresi pada usia lanjut dapat ditangani dengan memberikan psikoterapi kognitif, behavioral, dan psikodinamika.
3.      Gangguan Anxietas
            Gangguan kecemasan lebih banyak terjadi pada orang usia lanjut dibanding depresi. Gangguan anxietas pada usia lanjut dapat merupakan kelanjutan atau kekambuhan dari masalah yang terjadi pada masa usia terdahulu, atau dapat terjadi untuk pertama kali pada masa tua.
            Penyebab kecemasan pada orang usia lanjut mencerminkan beberapa kondisi ketika memasuki usia tua dan dapat merupakan reaksi atas kekhawatiran menderita sakit dan menjadi lemah. Penanganan kecemasan pada orang usia lanjut dapat ditangani dengan menggunakan terapi psiokologis.
4.      Gangguan Delusional (Paranoid)
            Penyebab gangguan delusional paranoia pada pasien lanjut usia dapat merupakan kelanjutan dari gangguan yang terjadi pada usia terdahulu atau dapat menyertai penyakit otak seperti delirium dan demensia. Paranoia bahkan dapat memiliki fungsi tertentu bagi pasien demensia, yaitu mengisi kekosongan memori yang disebabkan hilangnya memori.
            Pemikiran paranoid telah dihubungkan dengan kerusakan sensorik, khususnya kerusakan pendengaran. Beberapa orang meyakini bahwa orang-orang lanjut usia yang mengalami gangguan paranoid parah cenderung mengalami kerusakan pendengaran pada kedua telinga yang telah berlangsung lama. Orang lanjut usia yang telah mengalami ketulian dapat meyakini bahwa orang lain membicarakannya dengan berbisik agar ia tidak mendengar apa yang dikatakan mereka.
            Karena orang-orang yang menjadi paranoid juga memiliki penyesuian sosial yang buruk, simtom-simtom tersebut dapat terjadi setelah suatu periode dimana mereka semakin terisolasi secara sosial. Isolasi social itu sendiri membatasi kesempatan orang yang bersangkutan untuk menguji kecurigaannya terhadap dunia, sehingga memudahkan terbentuknya delusi tersebut.
            Penenganan gangguan delusional. Penanganan paranoia untuk orang lanjut usia sama persis dengan penanganan untuk orang yang lebih muda. Meskipun tidak banyak data terkendali, para ahli klinis berpendapat bahwa pendekatan terbaik adalah pendekatan sopurtif dimana terapis memberikan pengertian empatik kepada pasien atas kekhawatirannya. Secara langsung menentang delusi paranoid atau mencoba mengajak orang yang bersangkutan untuk menalar keyakinannya jarang menghasilkan efektif. Pengakuan tanpa menghakimi penderitaan yang disebabkan oleh paranoia tersebut lebih mungkin meningkatkan hubungan terapeutik dengan pasien.  
5.      Skizofrenia
Simtom-simtom skizofrenia mencakup delusi, hendaya kognitif, halusinasi, dan simtom-simtom negative seperti aspek datar. Prevalensi skizofrenia pada orang lanjut usia secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan prevalensi dalam populasi total orang lanjut usia yang menderita skizofrenia cenderung hidup dalam kemiskinan, memiliki tingkat pendidikan rendah dan tingkat pengangguran tinggi. Bila skizofrenia terjadi untuk pertama kali pada usia lanjut, sering sekali disebut parafrenia. Para psien cenderung orang tidak menikah, hidup dalam kesendirian, hanya memiliki sedikit kerabat yang masih hidup, mengalami kerusakan pendenganran, memiliki riwayat skizofrenia dalam keluarga, dan berasal dari kelas sosioekonomi terendah.
Beberapa peniliti meyakini bahwa pasien berusia lanjut yang didiagnosis mengalami parafrenia sebenarnya mengalami gangguan mood, karena pada banyak orang mengalami simtom-simtom utama, funsi kognitif dan fungsi secara keseluruhan tidak terganggu; hidup mereka tidak mengalami kemunduran dan gangguan yang umum dialami para pengidap skizofrenia.
6.      Gangguan yang Berkaitan dengan Penggunaan Zat
Penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol. Jika orang lanjut usia mengunsumsi 12 gelas minuman dalam seminggu juga dihitung, sekitar 8% orang lanjut usia adalah peminum berat. Berdasarkan perspektif lungitodinal, tampak bahwa para peminum berat cenderung mengurangi minum ketika memasuki usia tua. Mungkin diasumsikan bahwa minum bermasalh pada orang lanjut usia selalu merupakan kelanjutan dari pola yang terbentuk pada masa usia terdahulu, namun tidaklah demikian. Banyak peminum bermasalh mulai mengalami masalah yang berhubungan dengan berhubungan dengan alkohol setelah berusia 60 tahun.
Penyalahgunaan obat terlarang. Beberapa studi terhadap para penyalahgunaan narkotik yang berusia tua yang mengindikasikan bahwa mereka mengawali kebiasaan mereka pada usia muda dan mengurangi konsumsi obat mereka seiring bertambahnya usia, dan diasumsikan bahwa semua pecandu berhenti menggunakannya atau meninggal sebelum mencapai usia tua. Meskipun demikian, sekarang ini tampak bahwa jumlah pecandu heroin yang memasuki usia 60 tahun atau lebih semakin besar.
Penyalahgunaan pengobatan. Penyalahgunaan obat-obatan yang diresepkan dan dijual bebas merupakan masalah yang jauh lebih besar daripada penyalahgunaan alkohol atau obat terlarang dalam populasi orang tua. Tingkat konsumsi obat bebas pada orang lanjut usia secara keseluruhan lebih tinggi daripada kelompok umur manapun, meskipun hanya mencangkup 13% dari populasi, mereka mengkonsumsi sekitar 1/3 dari obat yang diresepkan. Pasien lanjut usia menggunakan lebih banyak obat-obat anti kecemasan dibanding kelompok manapun. Obat-obatan tersebut sering menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologis. Meskipun demikian, karena orang lanjut usia cenderung tidak bekerja secara rutin dan kadang bahkan tidak terlihat didepan umum selama berhari-hari atau berminggu-minggu dalam satu waktu, mereka dapat menyembunyikan penyalahgunaan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun.
7.      Hipokondriasis
Para lanjut usia dapat mengalami berbagai macam masalah fisik, diantaranya sakit pada kaki dan punggung, pencernaan yang buruk, sembelit, sesak nafas, dan kedinginan yang amat sangat. Diyakini secara luas bahwa hipokondriasis sangat umum terjadi dalam populasi orang lanjut usia, namun prevalensi hipokondriasis dikalangan orang lanjut usia mungkin tidak lebih besar dibanding dikalangan lain.
Para ahli klinis setuju bahwa secara umum tidak ada gunanya meyakinkan orang yang bersangkutan bahwa ia sehat karena orang-orang tersebut tidak peduli dengan berbagai hasil tes laboratorium yang negatif atau pendapat otoritatif dari berbagai sumber resmi.  
8.      Gangguan Tidur
Insomnia adalah keluhan yang umum terjadi dikalangan orang lanjut usia. Masalah tidur yang sering dialami oleh orang lanjut usia adalah sering terjaga pada malam hari, sering kali terbangun pada dini hari, sulit untuk tertidur, dan rasa lelah yang amat sangat pada siang hari. Keluhan tersebut sejalan dengan bebagai perubahan fsikologis yang terjadi secara normal ketika orang memasuki usia tua.
Penyebab gangguan tidur . selain perubahan yang berhubungan dengan penuaan, berbagai macam penyakit, obat-obatan, kafein, stress, kecemasan, defresi, kurang beraktifitas, dan kebiasaan tidur yang buruk dapat menyebabkan insomnia pada orang lanjut usia.
Penanganan gangguan tidur. Para dokter menyakini bahwa obat-obatan merupakan penanganan yang paling efektif untuk masalah tidur pada orang lanjut usia namun, penelitian baru-baru ini mengenai penanganan nonfarmakologis untuk gangguan tidur pada populasi orang lanjut usia memberikan hasil yang sangat menjanjikan, serta dapat melalui penanganan terapi behavior.
9.      Bunuh Diri
Terdapat beberapa faktor yang membuat orang-orang pada umumnya memiliki resiko yang sangat tinggi untuk bunuh diri: penyakit fisik yang serius dan kelemahan fungsional, penyakit fisikiakrik, rasa putus asa, isolasi sosial, kehilangan orang-orang yang dicintai, kondisi keuangan yang buruk, dan defresi.
Batler dan lewis berpendapat bahwa bunuh diri orang yang lanjut usia yang dilakukan orang lanjut usia mungkin lebih sering merupakan keputusan rasional atau filosofis dibanding orang-orang yang lebih muda. Intervensi untuk mencegah tindakan bunuh diri pada orang lanjut usia dengan menggunakan terapis dengan mencoba membujuk orang yang bersangkutan untuk melihat masalahnya dari sudut pandang yang akan mengurangi keputusannya.

10.  Seksualitas  dan Penuaan
Orang cenderung beranggapan bahwa laki-laki dan perempuan akan kehilangan minat dan kapasitas untuk berhubungan seks ketika mereka memasuki usia lanjut. Ada sebagian orang yang menyakini bahwa orang-orang yang lanjut usia tidak mampu menikmati hubungan lebih dari sekedar pelukan sayang dan ciuman di pipi. Terlepas dari keyakinan semacam itu, sebagian besar orang lanjut usia memiliki minat dan kapasitas seksual yang besar. Hal ini benar adanya bahkan bagi banyak orang yang berusia 80 hingga 100 tahun dengan kondisi tubuh yang sehat, dimana aktifitas yang lebih disukai cenderung berupa belaian dan masturbasi, dan kadang-kadang melakukan kontak kelamin.
Kaum laki-laki, yang berusia lanjut membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengalami ereksi, bahkan bila mereka distimulasi dengan cara yang mereka sukai. Tidak diketahui apakah perubahan psiologis atau pengendalian yang dipelajari selama bertahun-tahun yang berperan dalam hal ini. Dalam fase orgasme, kontraksi lebih sedikit dan tidak terlalu intens, dan cairan sperma yang dikeluarkan lebih sedikit dengan tekanan yang kurang setelah mencapai orgasme, ereksi melemas dengan lebih cepat pada laki-laki berusia lanjut, kemampuan untuk mengalami ereksi berikutnya tidak secepat pada laki-laki yang berusia lebih muda. Laki-laki berusia lanjut mampu memiliki pola aktivitas seksual yang sama dengan laki-laki yang berusia lebih muda, perbedaan besarnya adalah segala sesuatu memerlukan waktu lebih lama untuk terjadi, dan ketika terjadi, orgensinya berkurang.
Kaum perempuan, perempuan berusia lanjut mampu untuk aktif berhubungan seksual minimal sama dengan kaum laki-laki. Perempuan lanjut usia memerlukan waktu lebih lama untuk mengalami keterangsangan seksual, yang menjadi sesuai dengan lambatnya pola keterangsangan pada laki-laki. Terdapat beberapa bukti bahwa berbagai perubahan fisik tersebut tidak sedemikian ekstensif pada perempuan yang mnedapat stimulasi seksual secara teratur sekali atau dua kali dalam seminggu sepanjang kehidupan seksual mereka.
Masalah yang berhubungan dengan usia, penyakit fisik dapat menghambat hubungan seksual pada orang lanjut usia seperti halnya pada orang yang berusia lebih muda. Karena orang lanjut usia menderita lebih banyak penyakit kronis, potensi hambatan yang bersumber dari penyakit dan obat-obatan lebih besar. Perempuan cenderung lebih sedikit memiliki masalah fisik, mereka dikungkung oleh banyak mitos mengenai seksualitas pada perempuan yang memasuki usia tua. Aktivitas seksual perempuan heteroseksual umumnya dilakukan bila ia memiliki pasangan dan apakah pasangan tersebut dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, perempuan berusia lanjut kurang aktif berhubungan seks disbanding laki-laki lanjut usia, mungkin karena mereka kurang memiliki pasangan atau jika mereka berstatus menikah si suami cenderung berusia lebih tua dan memiliki berbagai masalah kesehatan yang signifikan.
Penanganan disfungsiseksual, beberapa orang lanjut usia memilih untuk tidak aktif berhubungan seks, namun orang lanjut usia yang mengalami dan terganggu oleh disfungsiseksual kemungkinan untuk menjadi calon pasien yang cocok untuk tipe terapi seks. Karena sikap terhadap seks pada orang lanjut usia yang ada dewasa ini dipengaruhi oleh masa.
Pada orang lanjut usia perhatian yang diarahkan apad kondisi fisik harus lebih besar dibanding bila menangani orang dewasa yang lebih muda.

Minggu, 06 Maret 2011

Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling


Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa :
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir konseli.
Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal, sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.
  1. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Namun, manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.
  2. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.
  3. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling, melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar, responsif, perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2).
Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1).
posisi-bimbingan-dan-konseling-dan-kurikulum-ktsp.jpg
Add caption
Gambar 1.
Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP)
dalam Jalur Pendidikan Formal
Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli.