Jumat, 19 September 2014

PUNISHMENT BY STIMULUS PRESENTATION




A.      Pendahuluan
Hirarki prosedur alternatif untuk mengurangi perilaku, terdiri dari Level I Strategi dari differential reinforcement, Level II Extinction (mengakhiri reinforcement), Level III Mengubah stimuli yang tidak diinginkan, dan Level IV Pemberian stimuli aversif. Dalam bab ini akan dibahas mengenai prosedur alternatif untuk mengurangi perilaku pada level IV yaitu pemberian stimuli aversif. Pendekatan differential reinforcement (DRI dan DRA) termasuk strategi meningkatkan respon yang mengganggu dengan menggunakan alternatif atau menggantikan yang tidak sesuai. Pendekatan differential reinforcement mungkin dikombinasikan dengan prosedur extinction. Hal tersebut dicontohkan dalam mengajarkan dan mereinforcement keterampilan sosial yang baru dengan mengabaikan perilaku yang bertentangan. Pendekatan differential reinforcement memberikan reinforcement secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama untuk menanggapi adanya gangguan. Alternatif pendekatan differential reinforcement memberikan reinforcement dengan segera (DRL) atau berangsur-angsur (DRO) utuk mengurangi perilaku. Pendekatan ini termasuk susunan strategi untuk meningkatkan (misalnya modelling, pengulangan perilaku, dan DRI/DRA). Ini dicontohkan dengan mengurangi tingkat reinforcement untuk perilaku yang mengganggu dengan mengajarkan dan reinforcement alternatif terhadap respon sosial.
Prosedur time-out tanpa pengecualian dimana semua sumber reinforcement ditarik dalam waktu yang singkat bersamaan dengan perilaku yang mengganggu. Alternatif prosedur respon yang berharga dimana reinforcer yang berlainan ditarik bersamaan dengan respon yang mengganggu. Pendekatan ini mungkin dikombinasikan dengan meningkatkan strategi mengajarkan dan pendekatan differential reinforcement. Dicontohkan dengan menuntun siswa untuk menempatkan kepalanya dibawah meja selama 3 menit atau membayar 10 token kemudian berbicara diluar. Kamu kemudian menyuruh suswa untuk mempraktekkan menaikkan tangannya dan mereinforce dia untuk melakukannya. Time-out pengecualian dimana siswa distimulasi dengan diisolasi di ruang kosong dan hubungan interpersonal. Time-out pengeculian mungkin dikombinasikan dengan meningkatkan strategi mengajarkan dan pendekatan differential reinforcement. Contohnya menyuruh remaja untuk masuk ruang time-out selama 3 menit setelah berperilaku agresif. Kamu mungkin akan memintanya untuk menunjukkan perilaku agresif. Sampai pada overcorrection, dimana siswa harus menunjukkan pemulihan secara luar biasa setelah perilaku sosial yang mengganggu dan mempraktekkan perilaku sosial alternatif yang positif. Bergantung pada sifat pemulihan dan kegiatan latihan yang positif, hirarki pendekatan dapat bergerak naik ke batas minimal dari pendekatan (misalnya siswa harus minta maaf karena menjatuhkan bukunya dan kemudian mengambil buku tersebut) atau hierarki bergerak turun secara tajam (misalnya, memberikan pemulihan dan kegiatan praktek yang positif membutuhkan bimbingan secara fisik dari orang lain).
Akhirnya, presentation of aversive consequences (PAC), dimana alat yang berbahaya diberikan setelah perilaku yang mengganggu, mungkin digambarkan sebagai prosedur yang paling membatasi. Sama seperti prosedur lainnya dalam strategi untuk meningkatkan, PAC dikombinasikan dengan modelling, pengulangan perilaku dan prosedur DRI/DRA. Bergantung pada sifat stimulus aversif, hirarki pendekatan dapat bergerak naik ke batas minimal dari pendekatan (misalnya, teguran verbal dan perintah). Pemberian stimulus aversif sebagai konsekuensi dari perilaku yang tidak tepat, digunakan secara umum dalam memperkenalkan istilah punishment. Punishment merupakan tindakan yang sederhana dengan memberikan konsekuensi yang tidak diinginkan setelah perilaku yang tidak tepat. Secara teknis, mengindikasikan hubungan antara beberapa stimulus, yang diartikan punisher sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Oleh karena itu, dampak dari penggunaan punishment pada umumnya yaitu membentuk lingkungan belajar yang berseteru.
Prosedur pengurangan perilaku harus dipilih hanya ketika perilaku tersebut secara jelas-jelas mengganggu kemampuan siswa untuk belajar atau membahayakan siswa atau orang lain. Reinforcement positif dari perilaku yang sesuai harus selalu dikombinasikan dengan prosedur apapun untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku. Makalah ini akan mendefinisikan prinsip dari punishment, membahas efek samping dan keterbatasan, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas punishment, menggambarkan contoh beberapa taktik perubahan perilaku yang menggabungkan punishment, membahas pertimbangan etis dalam penggunaan punishment, dan pedoman yang ada untuk menggunakan punishment efektif. Pada bagian penutup bab ini, kami menggarisbawahi kebutuhan untuk lebih dasar dan terapan mencari punishment dan mengulangi (1988) rekomendasi bahwa analis perilaku punishment oleh stimulasi kontingen sebagai teknologi standar untuk implementasi ketika intervensi lain telah gagal.

B.       Pembahasan
1.        Definisi dan Sifat Punishment
Bagian ini menyajikan hubungan fungsional dalam mendefinisikan punishment, pelaksanaan berbagai punishment dapat diimplementasikan, efek diskriminasi punishment, pemulihan punishment, punishers terkondisikan dan dikondisikan, faktor yang mempengaruhi keefektifan punishment, dan efek samping dan masalah yang ditimbulkan. Klasifikasi punishment yaitu removal pf pleasant event, punishment based on penalties and effort, dan presentation of aversive stimuli.
a.        Mendefinisikan Dampak dan Pelaksanaan Punishment
Seperti reinforcement, punishment adalah dua istilah, hubungan fungsional konsekuensi perilaku didefinisikan oleh dampaknya pada frekuensi perilaku dimasa depan. Punishment berlaku ketika respon segera diikuti oleh stimulus perubahan yang menurunkan frekuensi tanggapan serupa dimasa depan (Azrin & Holz, 1966). Penting untuk menunjukkan bahwa punishment adalah tindakan orang yang memberikan konsekuensi. Frekuensi terjadinya perilaku dimasa depan harus diperhatikan sebelum konsekuensi intervensi memenuhi syarat sebagai punishment. Intervensi yang terbukti berhasil mengurangi frekuensi menggigit Andrea dan mencubit, guru menunjuk jari dan berteriak "Tidak!". Diklasifikasikan sebagai punishment karena efek penekannya. Jika Andrea terus menggigit dan mencubit pada tingkat baseline merespons ketika intervensi diterapkan, gurunya menunjuk dan "Tidak!" tidak akan menjadi punishment. Karena penyajian punishers sering membangkitkan perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku yang sedang dihukum, efek penekan punishment secara langsung bisa berlebihan. Faktor lain yang berkontribusi terhadap kesulitan menentukan efektivitas punishment bahwa penurunan tingkat respon sering dikacaukan oleh efek yang disebabkan oleh pemotongan reinforcement untuk perilaku bermasalah (sesuatu yang harus menjadi bagian dari intervensi punishment, bila memungkinkan) (Iwata, Pace, Cowdery, & Miltenberger, 1994).
Pemberian stimulus aversif sebagai konsekuensi dari perilaku yang tidak tepat, digunakan secara umum dalam memperkenalkan istilah punishment. Stimulus aversif pada umumnya berupa penyerangan melalui tanda, suara, bau, rasa, atau sensasi fisik. Melalukan punishment, apabila menghasilkan pengurangan perilaku yang ditargetkan. Guru mengubah bentuk punishment hampir dengan refleks, seprti berteriak, memukul, terutama ketika lawan mereka secara fisik lebih kecil. Dari segi fungsional, bentuk punishment sering digunakan karena memiliki tiga keunggulan, yaitu:
a.    Penggunaan stimulus aversif secara cepat menghentikan perilaku dan memiliki efek jangka panjang (Azin, 1960), contoh sepasang siswa bergosip dibelakang ruangan akan berhenti ketika guru berteriak kepada mereka.
b.    Menggunakan stimulus aversif membantu belajar menyediakn diskriminasi yang jelas antara perilaku yang dapat diterima dan tidak diterima atau perilaku yang aman dan berbahaya (Marshall, 1965), contoh tertabrak mobil karena berlari diseberang jalan dengan jelas dan segera menunjukkan perilaku yang tidak tepat.
c.    Konsekuensi aversif bersamaan dengan perilaku siswa yang tidak tepat secara jelas memberikan gambaran kepada siswa lain, mengenai hasil dari perilaku, oleh karena itu, cenderung mengurangi kemungkinan individu lain akan melakukan perilaku tersebut (Bandura, 1965).
Penggunaan konsekuensi aversif tidak direkomendasi, terutama yang melibatkan kontak fisik sebagai rutinitas dalam mengelola kelas, rumah, atau lembaga-lembaga. Namun, mengakui adanya dampak perilaku yang disebabkan oleh penggunaan konsekuensi aversif. Konsekuensi aversif secara fisik atau lainnya, dibenarkan hanya jika keamanan terancam atau kasus masalah perilaku yang serius. Konsekuensi aversif harus digunakan, setelah mempertimbangkan keselamatan dan pedoman prosedural yang tepat, secara minimal, melingkupi:
a.         Menunjukkan dan didokumentasikan kegagalan dari alternatif prosedur nonaversif dalam memodifikasi perilaku sasaran.
b.        Persetujuan tindakan secara tertulis dari orang tua atau wali, melalui prosedur dan jaminan hak untuk menarik persetujuan tersebut setiap saat (Rimm & Masters, 1979).
c.         Keputusan untuk menetapkan prosedur aversif dibuat oleh profesional yang berkualifikasi yang telah ditunjuk.
d.        Diatur sebelumnya, jadwal untuk meninjau keefektifan prosedur dan menghentikan prosedur, sesegeram mungkin.
e.         Pengamatan secara periodik untuk menjamin konsistensi dan prosedur administrasi yang akurat dari anggota staf.
f.          Mendokumentasikan keefektifan prosedur serta bukti peningkatan kecapaian instruksi.
g.          Prosedur administrasi disusun hanya dengan anggota staf. (Anggota staf harus memegang instruksi dalam prosedur, mempertimbangkan penyelidikan yang dimuat dan digunakan dalam prsedur, dan akrab dengan pedoman prosedur secara spesifik dan dampak negatif yang mungkin timbul).
h.         Reinforcement positif dari perilaku yang bertentangan, bila memungkinkan, sebagai bagian rencana menggunakan stimulus aversif.
Krasner (1976) menunjukkan perbedaan penting antara keefektifan dan hal yang dapat diterima. Ini bukanlah keefektifan dari prosedur aversif, namun hal yang dapat diterima oleh orang tua, masyarakat, dan profesional. Teknik yang melibatkan konsekuensi aversif, dapat dipahami, menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Meskipun penggunaannya dapat diterima untuk kasus-kasus, seperti perilaku yang merugikan diri sendiri, apabila melaksanakan perlindungan yang tepat, ragu-ragu bahwa tindakan drastis dapat atau harus diterima sebagai rutinitas prosedur mengelola kelas.
2.        Punishment Postif dan Punishment Negatif
Seperti reinforcement, punishment dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara perubahan stimulus. Punishment positif terjadi ketika penyajian stimulus (atau peningkatan intensitas stimulus sekarang yang sudah ada) segera setelah hasil penurunan frekuensi perilaku. Punishment negatif melibatkan penghentian stimulus sudah ada (atau penurunan intensitas stimulus yang sudah ada) segera setelah perilaku yang mengakibatkan penurunan frekuensi perilaku di masa depan.
3.        Dampak Diskriminasi Punishment
Punishment tidak bekerja dalam ruang hampa kontekstual. Itu situasi stimulus yg di mana punishment memainkan peran penting dalam menentukan lingkungan yang kondisi mental di mana efek penekan punishment akan diamati.
4.        Pemulihan dari Punishment
Ketika punishment dihentikan, efek penekanan pada respon biasanya tidak permanen, sering disebut pemulihan dari punishment. Kadang-kadang bereaksi setelah punishment dihentikan tidak hanya akan sembuh tapi juga melebihi tingkat di mana sebelum diberikan punishment (Azrin, I960; Holz & Azrin, 1962). Hal tersebut lebih mungkin terjadi ketika punishment itu ringan atau ketika orang dapat membedakan bahwa punishment tidak lagi aktif. Meskipun efek respon punishment sering memudar ketika punishment dihentikan, demikian juga yang respon efek reinforcement sering menguat ketika perilaku direinforce sebelumnya ditempatkan pada extinction (Vollmer, 2002).
5.        Punisher Dikondisikan dan Tidak Dikondisikan
Stimulus aversif dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu stimulus aversif yang dikondisikan dan stimulus aversif yang tidak dikondisikan. Stimulus aversif yang tidak dikondisikan mengakibatkan sakit fisik atau ketidaknyamanan siswa, contoh stimulus menampar, menggigit, atau mencubit. Apapun golongan stimulus menyakiti fisik, menyebabkan konsekuensi terjadi secara alami, seperti menyentuh kompor panas atau konsekuensi yang dibuat-buat, seperti memakai alat kejut elektrik. Karena stimulus tersebut menghasilkan perubahan perilaku dengan segera tanpa membutuhkan pengalaman sebelumnya, sehingga menjadi universal, natural, atau punisher yang tidak dipelajari. Stimulus aversif yang tidak dikondisikan juga termasuk konsekuensi yang mungkin dinyatakan sebagai aversif ringan. Dari pada menyebabkan sakit, stimulus yang berbahaya mengakibatkan gangguan, ketidaknyamaan dan kejengkelan. Konsekuensi stimulus aversif meliputi menggunakan kekerasan dan kontrol fisik.
Kekerasan digunakan sebagai stimulus aversif untuk perilaku yang tidak tepat, meliputi air, jus lemon, dan amonia aromatik. Mengarahkan uap air yang dibuka ke bagian wajah subjek ketika melakukan perilaku yang ditargetkan mulai dari mengucapkan objek (menghasilkan muntahan atau menggigit tangan untuk beberapa objek), membenturkan kepala dan merobek tubuh dari bibir dan lengan bawah atau bentuk lain dari perilaku yang merugikan diri sendiri dan stereotip, pika (memakan yang bukan makanan). Menempatkan jus lemon ke dalam mulut subjek yang sedang menahan ruminasi (naiknya makanan yang telah ditelan) dan perilaku yang merugikan diri sendiri. Paling parah dan paling ekstrim dari konsekuensi kekerasan dengan menggunakan amonia aromatik. Amonia aromatik berbentuk kapsul yang berbau garam yang ditumbuk dan ditaruh dibawah hidung subjek untuk mengurangi perilaku merugikan diri sendiri, menyerang orang lain, dan pika. Kontrol fisik mengacu pada cara menuntut langsung, intervensi fisik tujuannya untuk menekan perilaku yang ditargetkan. Kedua prosedurnya yaitu bergantung latihan atau menahan diri. Bergantung latihan menuntut siswa untuk menggunakan aktifitas fisik, seperti push up atau menekuk lutut sebagai konsekuensi dari perilaku yang ditargetkan. Prosedur ini digunakan dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, stereotip, self-stimulatory, dan agresif, serta perilaku dalam merekrut militer yang digunakan oleh sersan.
Menahan diri semula digunakan untuk perilaku stereotip dan perilaku yang merugikan diri sendiri dan pika. Schloss dan Smith menunjukkan keterbatasan dalam menggunakan menahan diri.
a.       Menahan diri tidak melibatkan reinforcement perilaku alternatif.
b.      Perilaku yang tidak tepat dapat direinforce dengan panduan menahan diri sehingga meningkatkan kemungkinan terjadi di masa depan.
c.       Setelah siswa belajar bahwa ia secara fisik dibatasi dalam merespon, ia cenderung meningkatkan usahanya untuk melakukan hal tersebut.
d.      Penerapannya dapat merugikan guru dan siswa.
Kemudian Schloss dan Smith menyarankan pedoman berikut ini:
a.       Panduan menahan diri harus digunakan hanya untuk mencegah siswa sebagai penyebab dari merugikan dirinya sendiri, orang lain, atau sasaran lain.
b.      Panduan menahan diri tidak boleh digunakan untuk memaksa siswa berperilaku secara tepat, tetapi hanya berhenti melakukan yang tidak pantas. Dengan kata lain, Schloss dan Smith tidak merekomendasikan panduan fisik bagi siswa melalui latihan menahan diri, seperti mengembalikan sesuatu yang dicuri dari siswa lain.
c.       Menyediakan kesemapatan bagi siswa untuk mengontrol perilaku diri sendiri sebelum manajemen fisik, diterapkan.
d.      Harus diambil dengan sangat hati-hati untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi siswa selama prosedur menahan diri.
e.       Guru harus menjaga mempengaruhi keseluruhan proses manajemen fisik. Artinya mereka tidak harus menunjukkan kemarahan, ketakutan, ketegangan, atau lebih buruk, gembira. Sikap yang paling efektif adalah nampaknya tidak melihat sesuatu yang menahan diri siswa menjadi kewajiban seperti biasa.
f.       Laporan tertulis dari peristiwa manajemen fisik yang menggambrakan anteseden, respon agresif tertentu dan hasil atau konsekuensi yang harus segera dilakukan setela setiap kejadian.
Konsekuensi aversif berpotensi berbahaya, sehingga guru, orang tua atau komite konsultasi dalam mengelola perilaku telah membaca prosedur secara menyeluruh dalam literatur profesional sebelum merekomendasikan penggunaanya. Pemahaman yang jelas tentang pedoman prosedur secara khusus, seperti durasi dan jadwal pemberian konsekuensi, dan perhatian khusus pada potensi perilaku dan dampak negatif secara fisik harus dimiliki semua pihak sebelum dilaksanakan. Meskipun konsekuensi ini termasuk dalam kategori stimulus aversif yang tidak dikondisikan, mereka tidak selalu punisher universal. Beberapa siswa mungkin merasa sebagai prosedur memperkuat daripada menghukum. Seorang siswa mungkin menyukai ras jus melon, mungkin merasa menyenangkan untuk disemprotkan air diwajahnya atau menikmati kontak fisik dengan guru. Akses menahan diri sebenarnya telah digunakan sebagai reinforcement positif.
Stimulus aversif yang dikondisikan adalah stimulus siswa belajar untuk mengalami aversif sebagai akibat dari memasangkan stimulus aversif yang tidak dikondisikan. Golongan ini termasuk konsekuensi seperti kata-kata dan peringatan, nada vokal, atau gerakan. Seorang anak misalnya pernah mengalami berteriak, dipasangkan dengan dipukul. Berteriak mungkin menjadi stimulus aversif yang dikondisikan, seperti pengalaman yang membuktikan kepada siswa yang berteriak adalah berhubungan dengan nyeri. Rasa sakit yang terkait dengan stimulus aversif yang dikondisikan menjadi sakit secara psikologi atau sosial atau ketidaknyamanan, biasanya dalam bentuk malu atau ejekan dari teman. Teguran lisan (berteriak atau memarahi) bentuk paling umum dari stimulus aversif yang dikondisikan yang digunakan dikelas. Beberapa penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan dari teguran, yaitu (1) teguran verbal lebih efektif disampaikan dengan teguran dari aspek nonverbal, seperti kontak mata dan menggenggam erat, (2) teguran lebih efektif ketika disampaikan didekat siswa daripada ketika dilakukan diruangan, dan (3) memberikan teguran pada satu siswa mengurangi perilaku yang mengganggu teman dekat.
Jika stimulus aversif yang dikondisikan akan digunakan sebagai konsekuensi dalam program pengurangan perilaku, mereka harus digunakan seefektif mungkin. Seabagaimana yang ditunjukkan dalam definisi fungsional, guru harus konsisten dan langsung menerapkan konsekuensi. Aturan perilaku harus jelas terkait dengan kemungkinan yang dinyatakan sebelumnya: “jika..., maka....” pernyataan sebab dan akibat. Siswa harus memahami bahwa konsekuensi aversif tidak sewenang-wenang diterapkan. Kesegeraan penerapan menyakinkan siswa tentang kebenaran kemungkinan dan menggaris bawahi hubungan antara perilaku tertentu dan konsekuensinya. Selain memastikan konsistensi dan kesegeraan, guru harus menghindari peristiwa memperpanjang punishment. Konsekuensi harus cepat dan langsung pada pointnya. Kadang-kadang guru menjadi terlibat dalam menganalisis perilaku dan mengatur konsekuensi dan kadang-kadang lupa untuk meminta secara sopan kepada anak, untuk “tolong berhenti melakukan hal itu”, semua itu diperlukan. Apabila kata-kata punisher untuk siswa, seperti “jangan lari di aula” mungkin lebih efektif dari pada kuliah 15 menit, yang sebagian besar siswa menghilang.
Punisment jauh lebih efektif apabila intensitas stimulus aversif ditingkatkan secara bertahap, bukannya intensitasnya diberikan secara penuh di awal. Dengan peningkatan yang bertahap, siswa memiliki kesempatan untuk terbiasa atau peka terhadap penerapan sebelumnya. Pembiasaan beratahap dapat menyebabkan guru untuk mengelola tingkat intensitas jauh dari yang dipertimbangkan sebelumnya yang dibutuhkan untuk mengakhiri perilaku siswa yang tidak tepat. Keinginan atau usaha yang sebenarnya untuk melarikan diri dari kondisi aversif merupakan respon alami. Apabila punishment efektif mengubah perilaku siswa yang tidak diinginkan, guru harus mengatur lingkungan untuk mencegah siswa melarikan diri dari punishment. Unsur yang paling penting dari setiap rencana yang mencakup punishment untuk perilaku yang tidak tepat adalah menjamin bahwa punisment selalu digunakan berhubungan dengan penguatan untuk perilaku yang tepat. Punishment sedikit memberikan pembelajaran bagi siswa. Akibatnya, semua siswa belajar perilaku yang tidak boleh dilakukan. Mereinforcement perilaku yang sesuai menginstruksikan siswa pada perilaku yang sesuai atau diharapkan dan memberikan kesempatan untuk pengalaman yang sukses atau direinforce.
a.         Punisher Terkondisi atau Tidak Dikondisikan
Punisher berkondisi adalah stimulus yang fungsi pemberiannya sebagai punishment tanpa dipasangkan dengan punishers lainnya. (Beberapa penulis menggunakan punisher primer sebagai sinonim untuk Punisher berkondisi). Karena punisher berkondisi adalah produk dari sejarah evolusi spesies (filogeni), semua anggota biologis dari spesies yang lebih atau kurang rentan terhadap punishment oleh punishers berkondisi sama. Stimulasi yang menyakitkan seperti yang disebabkan oleh trauma fisik pada tubuh. Stimulus aversif yang tidak dikondisikan merupakan kejadian yang tidak diinginkan individu sebagai akibat dari pembelajaran sebelumnya. Kejadian stimulus aversif yang tidak dikondisikan meliputi: suhu yang ekstrem, merampas makanan atau minuman, gangguan secara fisik, trauma fisik, dan bau yang berbahaya. Karena individu memiliki sifat emosional secara biologis, stimulus aversif yang tidak dikondisikan pada umumnya ada pada diri individu. Mereka tidak membutuhkan pembelajaran sebelumnya, umumnya digunakan sebagai punishment bagi anak-anak yang sangat muda, orang yang memiliki keterlambatan perkembangan yang parah, atau siapapun yang stimulus aversifnya tidak dapat diidentifikasi.
Stimulus aversif yang dikondisikan, diperoleh dari sifat emosional negatif melalui pengalaman siswa. Pemasangan secara berulang setiap peristiwa netral dengan stimulus aversif yang tidak dikondisikan akan menghasilkan stimulus yang tidak dikondisikan memperoleh aversif. Misalnya, anak yang berteriak diberikan punishment fisik, mengakibatkan berteriak saja akan menimbulkan reaksi aversif. Peristiwa dapat menjadi sifat yang aversif melalui pengkondisian yang lebih tinggi dari kejadian aversif yang dipelajari sebelumnya yang dihubungkan dengan peristiwa netral. Contoh, orang tua memarahi dan memukul anak secara bersamaan, tetapi hasil dari memarahi menghasilkan reaksi emosional yang sama seperti memukul, memarahi kemudian dihubungkan dengan nilai buruk. Akibatnya, nilai buruk mengembangkan nilai emosional yang sama dengan memarahi dan memukul.
b.         Punisher Dikondisikan
Punisher dikondisikan adalah perubahan stimulus yang berfungsi sebagai punishment sebagai akibat dari pengalaman pengkondisian seseorang. (Beberapa penulis menggunakan punisher sekunder atau punisher belajar sebagai sinonim untuk Punisher dikondisikan). Punisher dikondisikan untuk berfungsi sebagai punisher melalui stimulus-stimulus dengan dipasangkan pada satu atau lebih punisher berkondisi. Stimulus aversif yang dikondisikan pada umumnya digunakan lebih pada aversif yang tidak dikondisikan karena beberapa masalah perilaku. Mereka umumnya tidak mengganggu dan tidak menyenangkan, tetapi masih mempunyai efek mempunish bagi sebagian masalah perilaku. Pada umumnya, aversif yang dikondisikan, yang digunakan disekolah, meliputi teguran verbal, menurunkan nilai, dan membukukan nama dan pelanggaran.
6.        Faktor yang Mempengaruhi Punishment
a.    Kesegaran
Efek yang bersifat menekan maksimum diperoleh ketika punisher sesegera mungkin setelah terjadinya respon sasaran. Semakin lama waktu tunda antara terjadinya respon dan terjadinya perubahan stimulus, punishment akan kurang efektif dalam mengubah respon (Michael, 2004, hal. 36).
b.    Intensitas
Peneliti menguji efek dari punishment dari intensitas atau besarnya (dalam hal jumlah durasi) telah melaporkan tiga temuan yang diandalkan: (1) korelasi positif antara intensitas punishment itu. Penekanan stimulus dan respon: semakin besar magnitude stimulus punishment, segera dan menyeluruh itu menekan terjadinya peribuhan perilaku (mis., Azrin & Holtz, 1966); (2) pemulihan dari punishment berkorelasi negatif dengan intensitas stimulus punishment: semakin intens punisher tersebut, semakin kecil kemungkinan akan terulang kembali ketika punishment dihentikan (misalnya, semacam ikan, Azrin, & Oxford, 1967); dan (3) stimulus intensitas tinggi mungkin tidak efektif sebagai punishment jika stimulus yang digunakan sebagai punishment awalnya dari intensitas rendah dan meningkat secara bertahap (misalnya, Terris & Barnes, 1969); Namun, seperti Lerman andVorndran (2002) menunjukkan, sedikit penelitian terapan menunjukkan hubungan antara besarnya punishment dan kemanjuran intervensi, dan menghasilkan hasil konsisten yang kadang-kadang bertentangan dengan dasar temuan (misalnya, Cole, Montgomery, Wilson, & Milan, 2000; Singh, Dawson, & Manning, 1981; Williams, Kirkpatrick-Sanchez, & Iwata, 1993). Ketika memilih besarnya stimulus punishment, maka praktisi harus bertanya: Apakah jumlah stimulus punishment dapat menekan kejadian perilaku bermasalah? Lerman dan Vorndran (2002) merekomendasikan: stimulus punishment harus cukup intensif dalam aplikasi yang efektif, tidak boleh lebih intens dari yang diperlukan. Sampai diterapkan lebih dari besarnya dilakukan, praktisi harus memilih yang telah terbukti aman dan efektif dalam studi klinis, selama dapat diterima dan dianggap praktis dalam menerapkan intervensi, (hal. 443)
c.       Jadwal
Efek bersifat menekan punisher dimaksimalkan oleh jadwal kontinyu punishment (FR 1) di mana setiap terjadinya perilaku yang diikuti oleh konsekuensi punishment. Secara umum, semakin besar proporsi respon yang diikuti oleh punisher, semakin besar penurunan respon (Azrin, Holz, & Hake, 1963; Zimmerman & Ferster, 1962). Azrin dan Holz (1966) meringkas efek perbandingan punishment pada jadwal kontinyu dan berjeda, sebagai berikut:
punishment secara kontinyu penekanannya dianggap lebih daripada punishment berjeda selama yang menghukum mempertahankan kontingensi. Namun, setelah kontingensi punishment dihentikan, punishment terus menerus memungkinkan pemulihan yang lebih cepat terhadap respon, mungkin karena tidak adanya punishment dapat lebih cepat didiskriminasikan, (hal. 415)
d.      Reinforcement untuk Perilaku Sasaran
Efektivitas, punishment dimodulasi oleh rekontinjensi reinforcement mempertahankan. Masalahnya menjadi perilaku. Jika masalah perilaku ini terjadi pada frekuensi yang cukup menimbulkan kekhawatiran, itu mungkin menghasilkan reinforcement. Jika respon sasaran tidak pernah diperkuat, maka " punishment hampir mungkin karena respon jarang akan terjadi" (Azrin & Holz, 1966, p. 433). Sampai-sampai penguatan mempertahankan perilaku bermasalah dapat dikurangi atau dihilangkan, menghukum akan lebih efektif. Tentu saja, jika semua memperkuat untuk masalah perilaku dirahasiakan, jadwal kepunahan yang dihasilkan akan menghasilkan pengurangan independen perilaku kehadiran kontingensi punishment.
e.       Penguatan untuk Perilau Alternatif
Holz, Azrin, dan Ayllon (1963) menemukan bahwa punishment tidak efektif dalam mengurangi perilaku psikotik ketika perilaku itu satu-satunya sarana yang pasien Namun, ketika pasien bisa memancarkan. respon alternatif yang mengakibatkan penguatan, punishment efektif dalam mengurangi perilaku mereka. Menyimpulkan laboratorium dan studi terapan yang telah melaporkan temuan yang sama, Millenson (1967) menyatakan:
Jika punishment digunakan dalam upaya untuk menghilangkan perilaku tertentu, maka penguatan apa pun perilaku yang tidak diinginkan telah menyebabkan harus dibuat tersedia melalui perilaku yang lebih diinginkan. Hanya menghukum anak untuk "perilaku" di kelas mungkin memiliki sedikit permanent efek .... ini memperkuat "perilaku" harus dianalisis dan pencapaian Memperkuat tersebut Barangkali diizinkan melalui respon yang berbeda, atau dalam situasi lain ... . Tapi untuk hal ini terjadi, tampaknya penting untuk memberikan alternatif dihargai dengan respon dihukum, (hal. 429)
7.        Kemungkinan Efek Samping dan Masalah dengan Penggunaan Punishment
a.     Reaksi Agresif dan Emosional
Punishment kadang-kadang membangkitkan reaksi emosional dan agresif yang dapat melibatkan kombinasi dari responden dan perilaku operant terkondisi. Punishment, punishment positif terutama dalam bentuk permusuhan, mungkin menimbulkan perilaku agresif dengan responden dan komponen operant (Azrin & Holz, 1966).
b.      Melarikan Diri dan Penghindaran
Melarikan diri dan penghindaran adalah reaksi alami untuk rangsangan. Melarikan diri dan perilaku menghindar mengambil berbagai bentuk, beberapa di antaranya mungkin menjadi masalah lebih besar dari perilaku sasaran dihukum. Sebagai contoh, dalam sebuah studi mengevaluasi efektivitas dirancang khusus pemegang rokok yang disampaikan sengatan listrik kepada pengguna ketika dibuka sebagai intervensi untuk mengurangi merokok, Powell dan Azrin (1968) menemukan bahwa "Sebagai intensitas punishment meningkat, durasi berkerut yang "mata pelajaran akan tetap berhubungan dengan kontinjensi, pada akhirnya, intensitas dicapai di mana mereka menolak untuk mengalami hal itu sama sekali" (hal. 69). Melarikan diri dan menghindari efek samping sebagai punishment, seperti reaksi emosional dan agresif, untuk menghindari pengiriman punishment dan memberikan penguatan.
c.       Punishment Libatkan Modelling yang tidak Diinginkan
Sebagian besar pembaca sudah familiar dengan contoh orang tua yang sementara memukul anak, mengatakan, "Ini akan mengajarkan Anda untuk tidak memukul teman bermain Anda!" Sayangnya, anak mungkin lebih cenderung untuk meniru tindakan orang tua, bukan parkata. Meskipun ini taktik untuk melakukan perubahan perilaku.
d.      Penguatan Negatif dari Perilaku Agen Menghukum
Penguatan negatif dapat menjadi alasan untuk lebarPenggunaan penyebaran (terlalu sering tidak efektif dan tidak perlu) dan ketergantungan pada (kebanyakan sesat) punishment di belakang anak, pendidikan, dan masyarakat. Ketika si A memberikan teguran atau konsekuensi permusuhan lainnya ke si B untuk nakal, efek langsung sering penghentian perilaku mengganggu, yang berfungsi sebagai kendali negatif penegakan hukum untuk perilaku Orang A. Atau, seperti Ellen Reese (1966), begitu ringkas, " punishment memperkuat Punisher" (hal. 37). Alber dan Heward (2000) menggambarkan bagaimana kontinjensi alami di tempat kerja di kelas bisa memperkuat penggunaan guru dari teguran untuk perilaku mengganggu sementara penggunaan nya contingent pujian dan perhatian untuk perilaku yang tepat. Meskipun teguran mungkin tidak efektif dalam menekan frekuensi perilaku masa depan, efek langsung menghentikan perilaku menjengkelkan adalah kekuatan penguatan ful yang meningkatkan frekuensi yang guru akan mengeluarkan teguran saat berhadapan dengan perilaku.
8.        Kelemahan dari Stimulus Aversif
Kelemahan dari stimulus aversif jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan langsung dari stimulus aversif. Berikut keterbatasan prosedur tersebut sehingga membuat guru harus berhenti dan mempertimbangkan kehati-hatian sebelum memilih menggunakan aversif:
a.    Dalam menghadapi punisher negatif, siswa memiliki tiga perilaku pilihan:
1)        Siswa dapat mogok kembali (misalnya, bertariak pada guru atau bahkan agresif secara fisik). Reaksi dapat memicu keinginan yang mengakibatkan memperluas kondisi.
2)        Siswa mungkin menjadi kemunduran, mungkin menghilangkan punisher, dan ditinggal menghilang untuk istirahat beberapa hari, sehingga tidak belajar apapun.
3)        Siswa terlibat dalam perilaku melarikan diri dan menghindar. Sekali siswa meninggalkan kelas, punisher di kelas tidak memberikan pengaruh langsung.
b.    Kita tahu bahwa bentuk paling dasar dan kuat dari instruksi dan pembelajaran terjadi melalui modeling atau imitasi. Karena guru menjadi sosok yang dihormati dan mempunyai otoritas, maka perilakunya sering diamati oleh siswa. Reaksi gruu menjadi model perilaku dewasa untuk berbagai situasi. Guru yang berteriak dan memukul pada dasarnya, mengatakan kepada siswa bagaimana orang dewasa bereaksi dan berupaya terhadap perilaku yang tidak diinginkan di lingkungan. Siswa dapat berpikir sebagai model, belajar yang tidak pantas, sebagi bentuk agresif dari perilaku. Sebagaimana dicatat oleh Sobsey (1990) punishment, hasil agresi induksi pada perilaku yang tidak tepat dan dapat membahayakan individu dan target agresinya.
c.     Kecuali siswa diajarkan memahami perilaku yang dipunish, mereka mungkin akan menjadi takut dan menghindari gruu atau seluruh pengaturan dimana punishment itu terjadi. Mempertimbangkan:
1)      Guru kelas empat yang menyentak ketika siswanya berjalan kedepan dan kebelakang diantara deretan meja. Dia adalah slapper.
2)      Gadis kecil disebuah lembaga yang tiba-tiba tidak akan tidur dikamar dimalam hari. Dia menangis dan menjerit sampai dibawa keluar dari aula. Dia menemukan bahwa petugas telah membawanya kekamar dan memukul dia karena perilaku buruknya disiang hari.
d.    Banyak interaksi dimana guru menganggap punisher berfungsi sebagai reinforcer positif. Anak mungkin menemukan membuat seorang remaja kehilangan kontrol dan terlihat menggelikan, sangat mereinforcement.
Dampak dari penggunaan PAC berkaitan dengan kesesuaian digunakan dalam program-program pendidikan, khususnya sebagai berikut (Schloss dan Smith, 1994):
a.       PAC tidak menyenangkan bagi guru dan siswa. Penggunaan PAC dalam pendidikan mengurangi  daya tarik terhadap pengaturan pendidikan bagi semua pihak.
b.      Konsekuensi dari aspek tidak menyenangkan dari PAC, siswa (dan mungkin guru) termotivasi untuk menghindari pengaturan dimana dia berada. Hal ini mungkin menyebabkan pembolosan, dikeluarkan, dan tidak menghiraukan profesional.
c.       PAC menghasilkan emosional negatif yang lebih tinggi. Siswa yang menerima stimulus berbahaya cenderung merespon dengan tingkat cemas, agresif, atau depresi yang lebih tinggi.
d.      Pengaruh PAC bersifat sementara. Meskipun siswa merespon secara langsung terhadap ancaman dari stimulus aversif (misalnya, guru yang data ke kelas), mereka mungkin berusaha untuk mengganggu ketika kondisi PAC tidak dihadirkan (misalnya, dikamar kecil atau pulang sekolah).
e.       Dampak PAC sangat spesifik. Dampak PAC tidak dapat digeneralisasikan untuk merespon yang terkait.
f.       Profesional dapat termotivasi untuk sering-sering menggunakan PAC, ketika efektif dalam mengurangi perilaku secara cepat terhadap respon yang mengganggu.
g.      PAC tidak efektif, bagi siswa yang memiliki gangguan perilaku yang parah. Siswa yang dihadapkan ada aversif yang ekstrim pada saat dirumah, mengakibatkan PAC yang diterapkan disekolah gagal untuk mengurangi perilaku yang mengganggu, sebab tidak dapat dipandang sebagai tidak menyenangkan.
h.      PAC tidak termasuk komponen pendidikan. Siswa dapat belajar untuk menghindari punisher atau punishment, tetapi gagal untuk belajar respon prososial.
Penggunaan konsekuensi aversif hanya sebagai pilihan akhir. Program PAC harus dikembangkan melalui perencanaan yang matang dan dilaksanakan setelah ditinjau secara menyeluruh oleh tim multidisiplin. Program ini harus dipantau secara hati-hati dengan memperhatikan secara seksama, mengenai efek langsung dan efek samping.
9.        Memaksimalkan keefektifan PAC
Gardner (1977) mengidentifikasi prinsip-prinsip yang mempengaruhi keefektifan prosedur PAC, yaitu:
a.     Menggunakan PAC secara jarang dan dikombinasikan dengan prosedur differential reinforcement.
b.    Menentukan kondisi terlebih dahulu dimana PAC akan diterapkan serta mendefinisikan dengan tepat mengenai perilaku sasaran.
c.     Mengajarkan siswa aturan punishment dan konsekuensi, di awal.
d.    Mengidentifikasi perliaku alternatif yang diharapkan dapat menggantikan perilaku yang kurangi menggunakan PAC dihubungkan dengan mengajarkan dan differential reonforcement.
e.     Memastikan siswa menyadari perilaku yang akan menghasilkan konsekuensi aversif dan perilaku prososial yang akan direinforce secara berbeda.
f.     Menerapkan PAC secara konsisten dan segera.
g.    Dihubungkan dengan keadaan yang akan diberikan PAC (misalnya, kamu terlambat ke tempat olah raga. Menurut aturan kami, kamu harus berlari lima putaran mengelilingi tempat olah raga, pulang sekolah).
h.    Menghadirkan konsekuensi aversif pada tingkat yang diharapkan akan segera efektif. Menyajikan PAC pada intensitas yang lebih rendah dan secara berangsur-angsur meningkatkan kekuatan dapat mengakibatkan siswa dapat menyesuaikan diri pada kondisi yang berbahaya secara progresif.
i.      Memastikan bahwa peristiwa aversif yang tidak diinginkan cukup untuk mengimbangi konsekuensi yang diinginkan sebagai hasil dari perilaku yang mengganggu.
j.      Menghindari mengancam atau memperingatkan siswa dalam menggunakan PAC. Menerapkan secara konsisten dan segera membuat siswa cukup menyadari tentang prosedur program.
k.    Memonitor antara perilaku yang ditargetkan dan perilaku yang mengiringi untuk memastikan tercapainya dampak yang diinginkan. Ingat bahwa manfaat yang dihasilkan prosedur harus lebih besar dibandingkan efek negatif.
l.      Menghindari pelarian yang tidak dikendaki dari peristiwa aversif (misalnya, emosional yang meledak-ledak).
m.  Menghentikan prosedur PAC jika hasilnya tidak menunjukkan suatu hubungan, segera setelah diterapkan.
n.    Jika dampak pengurangan hanya pada saat punishment, prosedur harus digunakan pada situasi yang relevan, lainnya.
o.    Tahap prosedur PAC dalam pengaturan pendidikan
Kesesuaian PAC untuk masalah perilaku terletak pada hasil analisis prebaseline dan pembelajaran lingkungan.
10.    Contoh Intervensi Punishment Positif
Bentuk intervensi punishment positif yaitu teguran, respon blocking, latihan kontijensi, overcorrection, dan stimulasi listrik kontingen.
a.      Teguran
Pemberin teguran secara lisan sesaat setelah terjadinya perilaku adalah bentuk paling umum dari punishment positif. Sejumlah studi menunjukkan bahwa teguran seperti ‘tidak!’, ‘stop, jangan lakukan itu!’ segera dilakukan setelah munculnya suatu perilaku dapat menekan kemungkinan munculnya kembali perilaku tersebut di masa depan. Meskipun masih sedikit studi yang mempelajari efektifitas teguran sebagai punisher, dalam upaya meredam munculnya perilaku yang tidak diinginkan. Perintah atau teguran yang diberikan sekali efeknya akan lebih terasa daripada yang dilakukan berulang kali, efek dari teguran itu sendiri tidak terlalu efektif. Teguran harus dipakai sehemat mungkin dan dikombinasikan dengan pujian dan perhatian sesuai dengan perilku yang diperlihatkan.
b.      Respon Blocking
Respon blocking dilakukan ketika seseorang mulai memperlihatkan perilaku yang bermasalah, respon blocking terbukti efektif dan mampu mengurangi frekuensi masalah perilaku seperti kekerasan fisik (menusuk mata, mencubit, dll). Selain mencegah perilaku yang tidak diinginkan, terapis mungkin melakukan teguran secara lisan atau dukungan untuk berhenti pada perilaku tertentu.
c.       Latihan Kontijensi
Latihan kontijensi dianggap efektif sebagai hukuman untuk berbagai self-stimulasi, stereotip, mengganggu, agresif dan perilaku yang merugikan diri sendiri. Luce, Delquadri dan Hall menemukan bahwa pengulangan latihan kontijensi pada dua orang anak laki-laki dengan cacat berat berkurang hingga level nol. Ben (7 tahun) sering memukul anak-anak lain di sekolah, saat Ben memukul, ia diminta berdiri dan duduk 10 kali. Setiap kali pemukulan terjadi orang dewasa terdekatnya hanya berkata “Ben, tidak boleh memukul, berdiri dan duduk 10 kali’ dan awalnya dibantu oleh asisten, lama kelamaan Ben hanya membutuhkan petunjuk verbal saja.
d.    Stimulasi Listrik Kontingen
Stimulasi listrik kontingen sebagai hukuman melibatkan penyajian stimulus listrik sesegera setelah terjadinya masalah perilaku. Meskipun penggunaan stimulasi listrik sebagai pengobatan, kontroversial dan menimbulkan pendapat yang kuat, Duker dan Seys (1996) melaporkan bahwa 46 penelitian telah menunjukkan bahwa stimulasi listrik kontingen dapat menjadi aman dan metode yang efektif untuk menekan dan mengancam nyawa perilaku yang merugikan diri sendiri.
e.    Overcorrection (Koreksi yang berlebihan karena takut membuat kesalahan)
Overcorrection dikembangkan sebagai prosedur pengurangan perilaku, meliputi pelatihan perilaku yang sesuai. Prosedur overcorrection kedepan dianggap edukatif. Tujuannya mengajarkan siswa untuk mengambil tanggungjawab atas tindakan mereka yang tidak pantas dan mengajarkan mereka perilaku yang sesuai. Perilaku yang benar diajarkan melalui pengalaman yang berlebihan. Karakteristik pengalaman yang berlebihan dari overcorrection bertolak belakang dengan prosedur correction yang sederhana dimana siswa memperbaiki perilaku yang keliru, tetapi tidak selalu dibutuhkan untuk melakukan praktek yang berlebihan atau diperpanjang guna perilaku yang tepat. Ada dua tipe dari prosedur overcorrection, yaitu restitutional overcorrection yang digunakan ketika keadaan terganggu oleh perilaku salah satu siswa. Siswa harus overcorrect keadaanya atau gangguannya. Positive practice overcorrection digunakan ketika bentuk perilakunya tidak tepat. Dalam prosedur ini, siswa mempraktekkan bentuk pembenaran yang berlebihan untuk perilaku yang tepat. Prosedur overcorrection harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)        Konsekuensi (perilaku) yang diberikan kepada siswa yang langsung berkaitan dengan perilaku tersebut. Ini harus mengurangi kemungkinan digunakan secara sewenang-wenang dan harus mencegah terjadinya respon yang tidak pantas.
2)        Siswa harus terlibat langsung dengan usaha yang biasanya diberikan kepada orang lain untuk memperbaiki perilaku yang tidak pantas.
3)        Overcorrection harus dibentuk segera setelah perilaku yang tidak pantas.
4)        Siswa yang melakukan overcorrection harus bertindak secara cepat sehingga konsekuensi merupakan syarat upaya penghambat.
5)        Siswa diinstruksikan dan dipandu secara manual melalui tindakan yang diperlukan, dengan jumlah bimbingan yang disesuaikan dengan kejadian demi kejadian menurut sejauh mana siswa secara sukarela melakukan tindakan tersebut.
Keberhasilan penggunaan overcorrection telah dibuktikan dengan menggunakan berbagai durasi. Jangka waktu overcorrection berlangsung selama 30 detik atau satu menit selama dua jam, tergantung pada perilaku yang ditunjukkan. Keberhasilan mengurangi gerakan tangan stereotip telah dilaporkan  setelah siswa terlibat dalam prosedur overcorrection selama 2,5 menit serta 5 menit. Carey dan Bucher (1985) mencatat bahwa jangka waktu yang lebih pendek menghasilkan kebih sedikit efek samping negatif, seperti egresi.
1)   Restitutional Overcorrection
Prosedur restitutional overcorrection mengharuskan siswa memulihkan atau memperbaiki lingkungan yang telah diganggu, bukan hanya ke kondisi aslinya, tetapi diluar kondisi tersebut. Contoh, ketika guru menemukan siswa yang melemparkan spitball (kertas yang digulung menjadi bola kemudian dibuang dengan dilempar), guru menugaskan correction yang sederhana, dia mengatakan, “Michael ambil itu dan buang ditempat sampah dan sekarang ambil semua kertas yang ada dilantai.”  
Bentuk memperbaiki lingkungan digunakan oelh Azrin dan Foxx (1971) sebagai bagian dari program toilet training. Ketika seorang siswa mengalami tertimpa musibah, dia harus menanggalkan pakaian, mencuci pakaian, menggantung pakaian supaya kering, mandi, memperoleh pakaian bersih, kemudian membersihkan tempat yang kotor di kamar kecil. Berbagai macam tugas oleh Azrin dan Wesolowski (1974) ketika menyingkirkan pencuri, mereka membutuhkan pencuri untuk kembali bukan hanya untuk barang curian, tetapi juga barang lain yang telah dicuri. Tinjauan penelitian oleh Rusch dan Close (1976) menunjukkan teknik restitutional overcorrection untuk mengurangi perilaku yang mengganggu dikelas:
a)         Kasus dimana objek yang terganggu atau disusun ulang, semua objek (seperti furnitur) yang ada di tempat yang menyebabkan gangguan, diluruskan, bukan hanya benda yang awalnya terganggu.
b)        Kasus dimana seseorang terganggu atau takut pada orang lain, semua orang menyampaikan pemintaan maaf, bukan hanya karena mereka terganggu atau takut.
c)         Kasus infeksi mulut, dengan membersihkan mulut secara menyeluruh menggunakan atiseptik memahami kontak mulut yang tidak higienis seperti menggigit orang atau mengunyah benda yang telah dimakan.
d)        Kasus agitasi (menghasut orang lain), yang seharusnya diam diberlakukan, justru memicu kegaduhan, seperti menjerit-jerit dan berteriak-teriak.
2)        Positive-practice overcorrection
Dengan positive-practice overcorrection, siswa yang terlibat dalam perilaku yang tidak pantas diminta untuk terlibat secara berlebihan atau praktek yang benar dari perilaku yang tepat. Contoh, jika kelas berbaris untuk istirahat, guru meminta semuanya untuk duduk kembali dan berbaris lagi merupakan penggunaan koreksi yang sederhana. Guru yang membuat semua orang duduk kembali dan kemudian berlatih sejalan dengan membawakan peran untuk melakukannya dengan cara yang benar adalah penggunaan positive-practice overcorrection. Untuk memastikan sifat edukatif yang dimaksud dari prosedur ini, latihan harus menjadi alternatif perilaku yang tepat, secara rinci mirip dengan perilaku yang tidak pantas. Foxx dan Azrin (1973) dan Azrin, Kaplan, dan Fox (1973) menggunakan prosedur ini untuk mengubah perilaku stereotip anak autis. Selain itu, digunakan untuk perilaku yang tidak tepat lainnya seperti perilaku stereotip, agresi, dan merusak diri sendiri, positive-practice berhasil mengatasi berbagai perilaku akademik. Untuk meningkatkan prestasi membaca siswa dengan membuat kekeliruan dari yang diajarkan, siswa mendengaran kata-kata yang dibacakan oleh guru secara benar, sambil memperhatikan kata-kata yang ada dibuku. Siswa kemudian mengatakan lima kata secara benar dan membaca ulang kalimat tersebut. Siswa yang membenarkan ejaan yang keliru diminta untuk mendengarkan kata yang diucapkan, kata yang diucapkan secara benar, dikatakan dengan keras dan menulis kata dengan benar. positive-practice juga telah digunakan dalam menulis miring dan komunikasi manual. Dalam meninjau remidiasi akademik dan menggunakan overcorrection, Lenz, dkk (1991) menyarankan prosedur overcorrection digunakan untuk remidiasi akademik dinamakan “latihan diarahkan” karena mereka menemukan prosedur yang tidak benar-benar memenuhi kriteria yang ditetapkan Foxx dan Bechtel (1982) (contoh, menggunakan bimbingan dan anjuran secara manual) dan komponen utama dari latihan dan perhatian diarahkan ke tugas belajar.
Prosedur overcorrection jangan diterapkan sendiri sebagai mereinforcement secara positif. Tambahan, kualitas keaversifan dalam penggunaan, restitutional atau positive-practice overcorrection procedure digunakan meliputi
a)         Mengatakan kepada siswa mengenai perilakunya yang tidak sesuai
b)        Menghentikan aktifitas yang sedang dilakukan siswa secara terus menerus
c)         Menyediakan intruksi verbal secara sistematik untuk kegiatan overcorrection yang mana melibatkan siswa.
Sebelum menggunakan prosedur overcorrection, guru harus mempertimbangkan:
a)         Pelaksanaan overcorrection memerlukan perhatian penuh dari guru. Guru secara fisik, dekat dengan siswa untuk memastikan bahwa siswa memenuhi intruksi overcorrection dan siap untuk mengintervensi bimbingan secara fisik, jika diperlukan.
b)        Prosedur overcorrection cenderung memakan waktu, kadang-kadang berlangsung 5 sampai 15 menit dan mungkin lebih lama. Baru-baru ini, penelitian menyarankan bagaimanapun penerapan durasi pendek setidaknya lebih efektif dari pada durasi yang panjang dalam membantu mengubah perilaku, terutama ketika perilaku alternatif lebih menekankan edukatif daripada prosedur yang berpotensi punishment.
c)         Karena kontak fisik dengan siswa yang terlibat dalam penggunaan overcorrection, guru harus menyadari kemungkinan keagresian siswa atau upaya untuk melarikan diri dan menghindari situasi aversive.
d)        Selama jangka waktu overcorrection, siswa dapat menjadi lebih distruktif saat guru tidak bisa membimbingnya dengan menggunakan prosedur overcorrection.
e)         Karena overcorrection sering melibatkan bimbingan fisik untuk memperpanjang jangka waktu, ini mungkin merupakan prosedur yang sangat aversif bagi dewasa dalam mengimplementasikannya.
f)         Jika siswa direinforce untuk respon yang benar selama positive-practice, mereka mungkin berperilaku yang tidak pantas untuk menunjukkan cara dan menerima reinforcer. Ini mungkin tidak akan sering terjadi dan menggunakan reinforcement secara umum, tentu saja lebih baik. Membandingkan positive-practice dengan dan tanpa mereinforcement respon yang benar. Carey dan Bucher (1986) menemukan pengunaan tanpa reinforcement “menunjukkan tidak ada keuntungan lebih, variasi reinforce dan mengakibatkan kejadian yang lebih besar sebagai efek samping yang tidak diinginkan seperti agresi dan emosi.
Overcorrection dapat memberikan konsekuensi eversif di kelas. Penting untuk diingat bahwa prosedur overcorrection, meskipun memiliki beberapa keistimewaan aversif, harus digunakan bukan sebagai membalas, tetapi alat edukatif. Membuat perbedaan nada dan cara guru dalam menerapkan prosedur yang dapat diterima oleh siswa. Guru yang menggunakan marah atau nada suara yang mendesak atau kekuatan yang tidak diperlukan ketika membimbing siswa melalui prosedur overcorrection dapat meningkatkan kemungkinan perlawanan. Ketegasan tanpa agresi adalah tujuannya. Kadang-kadang, dua prosedur yang menghasilkan pengurangan perilaku dapat salah diidentifikasikan sebagai bentuk overcorrection atau bingung dengan prosedur tersebut. Pendekatan lain yang digunakan adalah negative practice dan stimulus satiation. Kebingungan dapat terjadi karena, seperti dalam overcorrection, prosedur ini melibatkan adanya pengalaman yang berlebihan.
 Negative practice mengharuskan siswa melakukan perilaku yang tidak pantas berulang kali. Prosedur ini didasarkan pada asumsi bahwa mengulangi perbuatan akan menyebabkan kelelahan atau kejenuhan. Sebagai contoh, perilaku tidak pantas yang dilakukan siswa adalah berjalan diruangan selama pelajaran, positive-practice mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk duduk dikursi manapun, sedangkan negative-practice menyuruh siswa untuk berlari dan berlari dan berlari. Negative practice telah digunakan untuk mengurangi perilaku motorik yang kecil. Bebrapa penelitian melaporkan penggunaan prosedur ini. Yang telah diterbitkan untuk mengatasi masalah merokok, menyeringai dan gerakan tubuh yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak dengan cerebral palsy ketika berbicara, dan perilaku yang merugikan diri sendiri.
Negative practice tergantung pada kelelahan dalam merespon atau kejenuhan. Stimulus satiation, disisi lain, tergantung pada siswa terpuaskan dengan perilaku yang mendahului (anteseden). Ayllon (1963) penggunaan stimulus satiation kepada individu yang ditimbun dengan sejumlah handuk dan menaruhnya dikamar rumah sakit jiwa. Dalam rangka untuk mengurangi perilaku penimbunan ini, perawat mengambil handuk untuk diberikan pada wanita ketika berada dikamarnya dan hanya menyerahkan, tanpa berkomentar. Minggu pertama, rata-rata dia diberi 7 handuk sehari, minggu ketiga mungkin meningkat menjadi 60 handuk. Ketika handuk yang disimpan dikamarnya menjadi 625 handuk, perawat mulai mengeluarkan beberapa. Setelah itu tidak ada lagi handuk yang diberikan kepadanya, selama 12 bulan ke depan, rata-rata jumlah handuk yan ditemukan dikamarnya yaitu 1 sampai 5 handuk per minggu, dibandingkan dengan rentangan 13-29.


3 komentar: